Selasa, 02 Desember 2014

KEHIDUPAN DAN MITOS YANG ADA DI MENTAWAI

Letak kepulaan mentawai
Kepulauan mentawai terletak di barat pulau sumatra, kepulauan ini termasuk kabupaten mentawai , propinsi Sumatra Barat. Ibukota kabupaten Tua pejat di pulau Sipora.
            Ada sekitar 40 pulau di kepulauan ini, namun hanya empat yang berpenghuni , yaitu siberut, pagai utara dan selatan dan pulau sipora. Orang asli mentawai berasal dari pulau si berut. Migrasi orang asli ke tiga pulau lainnya di picu oleh berbagai hal, di antaranaya bencana alam seperti banjir, wabah penyakit, dan konflik antara klan dalam suku ini. Kepulauan mentawai merupakan kawasan hutan tropis basah yang kaya akan vegetasi seperti sagu, meranti putih, keruing, dan gaharu yang kini sudah langka.
Tempat tinggal
Masyarakat Mentawai bersifat patrinial dan kehidupan sosialnya dalam suku tersebut. Struktur sosial tradisional adalah kebersamaan, mereka tinggal di rumah besar yang disebut juga “uma” yang berada di tanah-tanah suku. Seluruh makanan, hasil hutan dan pekerjaan dibagi dalam satu uma.
Rumah tradisional / adat suku Mentawai masih banyak kita di jumpai di kabupaten Kepulauan Mentawai, provinsi Sumatera Barat, Indonesia.
Uma biasanya dihuni oleh 5 hingga 7 kepala keluarga dari keturunan yang sama. Satu diantaranya anggota yang tinggal dalam sebuah rumah disebut Sikerei. Sikerei itulah yang oleh suku Mentawai dianggap sebagai tetua. Uma menjadi pusat kehidupan bagi suku Mentawai. Di dalam Uma itulah, suku Mentawai tinggal, menyelenggarakan pertemuan dan melaksanakan berbagai macam acara adat, seperti penikahan. Uma juga menjadi tempat untuk menyembuhkan anggota keluarga jika ada yang sakit.
Uma adalah rumah besar yang berfungsi sebagai balai pertemuan semua kerabat dan upacara-upacara bersama bagi semua anggotanya. Uma terbuat dari kayu kokoh dan berbentuk rumah panggung yang dibawahnya digunakan sebagai tempat pemeliharaan ternak seperti babi.
Selain bangunan rumah utama atau uma ada macam bangunan lain yang di sebut:
Lalep tempat tinggal yang di peruntukan suami istri yang pernikahannya sudah dianggap sah secara adat. Biasanya lalep terletak di dalam Uma.
Rusuk suatu pemondokan khusus, tempat penginapan bagi anak-anak muda, para janda dan mereka yang diusir dari kampung atau orang-orang yang di asingkan karena melanggar aturan adat suku mentawai.
KontruksiBangunanUma
Secara umum konstruksi uma ini dibangun tanpa menggunakan paku, tetapi dipasak dengan kayu serta sistem sambungan silang bertakik.
Bangunan uma menyerupai atap tenda memanjang yang dibangun diatas tiang-tiang, karena atap yang terbuat dari rumbia yang menaungi menjulur ke bawah sampai hampir mencapai lantai rumah. Pohon sagu atau rumbia merupakan bahan penutup atap dari daun daun pohon rumbia yang banyak tumbuh di rawa atau di pantai. Kelebihan menggunakan atap rumbia yaitu terlihat alami, menimbulkan suasana baru, ringan dan relatif murah. Sedangkan kekurangannya ialah daya tahan maksimal 4 tahun, sulit melakukan upaya perbaikan atau pergantian, dan rawan bocor bila terjadi hujan lebat.
Kerangka bangunan, terdiri dari lima perangkat konstruksi dari tonggak-tonggak, balok-balok, dan tiang-tiang penopang atap. Kerangka bangunan ini dibangun berjejer melintang ke belakang dan saling berhubungan dengan balok memanjang.
Kekuatan struktur Uma dihasilkan oleh teknik ikat, tusuk dan sambung sedemikian rupa. Bahan Uma diambil dari alam sekitar dan dipilih yang bermutu baik.
Luas rumah persatuan kepala keluarga dengan rata-rata panjang : 31 m, lebar : 10 m, dan tinggi = 7 m. Pembagian ruangannya cukup sederhana, di bagian depan adalah serambi terbuka yang merupakan tempat untuk menerima tamu. Sedang pada bagian dalam digunakan untuk ruang tidur keluarga. Di ruangan ini terdapat pula perapian yang digunakan untuk memasak suatu keadaan yang wajar mengingat kegiatan siang hari bagi laki-laki dihabiskan di ladang atau di hutan, sementara istrinya bertugas di kebun halaman dan memasak.
Bangunan uma ini terdiri atas dua bagian ruangan besar. Di depan ada beranda yang luas tanpa dinding yang berfungsi untuk ruang tamu dan ruang keluarga berkumpul dan bercakap-cakap pada malam hari. Di belakangnya, ruangan yang berdinding menjadi ruang tidur dan dapur, tanpa sekat.
Sisi depan rumah ditutup dengan dinding atap rumbia yang terbentang kebawah sampai batas 1 m (tempat masuk) 1,5 meter dari lantai. Rumbia atau disebut juga (pohon) sagu adalah nama sejenis palma penghasil pati sagu.
Dinding sebelah dalam diatas tempat masuk diperkokoh dengan selembar papan yang dihiasi gambar (tagga) atau ukiran, sedangkan ruangan dibawahnya dan sisi kanan dan kirinya tidak berdinding, yang disebut serambiadidepanaKolongTerdapat dibawah rumah tempat tinggal dan tidak memiliki dinding. Kolong ini dimanfaatkan sebagai tempat untuk berternak babi.
Ornamen/ragamhias
Pola-pola ornamen atau dekorasi rumah Mentawai, sangat dipengaruhi oleh pengaruh India wujudnya berupa bentukan sulur-sulur yang bentuk tumbuh-tumbuhannya dengan dedaunan dan bunga-bungaan.
PEMBAGIAN RUANG UMA

Di muka tempat masuk yang sebenarnya. Disini terdapat batu pengasah kapak dan pisau, dan ditaruh bumbung bambu yang besar untuk dipakai para wanita dan anak- anak untuk mengambil air dari anak sungai yang dekat dengan rumah. Sedangkan para pria memakai tempat ini pada siang hari yang pengap dan bercuaca mendung untuk mengurus perkakas.
Dinding sebelah dalam diatas tempat masuk diperkokoh dengan selembar papan yang seringkali dihiasi ukiran atau gambar (tangga).Ruangan dibawahnya terbuka, dan sisi kanan dan kirinya bagian pertama dari rumah yang berada dibawah naungan atap tidak berdinding, yang biasa disebut dengan serambi depan atau kagareat dengan panjang lima meter.
1. Diantara tiang-tiang dipasang bangku-bangku disebelah kiri dan kanannya.
2. Beranda depan difungsikan untuk berkumpul, mengobrol dan menerima tamu.
Ruang dalam pertama, cahaya diperoleh lewat lubang pintu, ruangan yang dimaksud berwujud seperti bangsal yang panjang dan gelap dengan dinding papan yang menutupi sisi samping dan belakangnya. Kecuali lewat lubang pintu tingkap, kadang cahaya diperoleh lewat celah yang terjadi dengan jalan melepaskan salah satu papan dinding, dengan cara seperti ini jg dapat dipergunakan untuk masuk ke bilik-bilik samping (jairabba) yang berada di bawah bagian samping atap, dengan lantai panggung tersendiri. Pada panggung seperti ini ditaruh tuddukat, yaitu perangkat keuntungan ynag terdiri dari empat batang kayu yang dilubangi dengan cara membuat celah dan dengan panjang satu setengah sampai tiga meter.
Pertengahan rumah, terdapat konstruksi balok yang melintang. Dilantai sebelah depannya ada perapian yang lebarnya mengisi seluruh lorong tengah, berfungsi sebagai tempat memasak seluruh kelompok saat perayaan. Perapian terbuat dari tanah yang dipadatkan dalam segi empat yang dibentuk oleh balok-balok yang saling dihubungkan dalam sistem pasak.
Ruanganumaterbagimenjadi2bagian,yaitu :
a. Bagian depan : adalah serambi terbuka yang merupakan tempat untuk berkumpul, mengobrol, dan menerima tamu. Di malam hari tempat ini dipakai untuk bercerita atau bercakap-cakap tentang kejadian sehari-hari, serta di gunakan sebagai ruang tidur bagi para pria.
b. Bagian dalam : digunakan untuk ruang tidur keluarga. Di ruangan ini terdapat pula perapian yang digunakan untuk memasak. Pada bagian tengah Uma terdapat ruangan untuk berkumpul dan dan menarikan tarian adat Mentawai.
Jenis-jenisaruanganapadaaUmaaBerdasarkanaUrutanadariaDepanaSampaiaBelakang.
1. Panggung : terbuat dari hamparan papan-papan yang tidak halus, yang terletak di sisi depan rumah. Disini terdapat batu pengasah, kapak, dan pisau. Juga ditaruh bumbung bambu yang besar-besar yang dipakai para wanita dan anak-anak untuk mengambil air dari anak sungai yang berada di dekat rumah, sedangkan para pria memakai tempat itu pada siang hari untuk bekerja mengurus perkakas.
2. Serambi depan : tempat untuk berkumpul dan tempat tidur para pria dan juga pada sisi kanan dan kirinya ada bangku kayu untuk menerima tamu.
3. Ruang dalam pertama : disini terdapat ruangan yang berwujud bangsal panjang dan gelap dengan dinding kurang lebih setinggi orang yang menutupi sisi samping dan belakang. Pencahayaan dalam ruang diperoleh lewat lubang pintu atau dengan dilepaskannya salah satu papan dinding. Biasanya ruangan ini digunakan untuk menjamu tamu dan tempat segala rapat dan upacara adat digelar.
4. Ruang dalam kedua : di berikan sekat dengan kayu-kayu sehingga memisahkan ruang utama. Dilantai sebelah depannya terdapat perapian yang lebarnya mengisi seluruh lorong tengah tempat masuk pada waktu perayaan. Disisi kanan perangkat konstruksi balok melintang ketiga ini, tempat untuk menggantungkan bejana-bejana sajian untuk upacara memohon keberhasilan dalam berburu. Di lorong tengah, anatara perapian dan dinding belakang bangsal, lantainya terbuat dari papan lebar yang diserut sampai halus, yang merupakan tempat untuk menari[1].

Mayoritas orang Mentawai memeluk agama Katolik dan sebagian beragama Protestan, Islam atau Bahai. Walaupun demikian sebagian besar orang Mentawai tetap memegang teguh religinya yang asli, ialah Arat Sabulungan. Arat berarti “adat” dan bulungan berasal dari kata bulu (daun).                                           .
Dalam religinya, bukan hanya manusia yang mempunyai jiwa, tetapi juga hewan, tumbuh-tumbuhan, batu, air terjun sampai pelangi, dan juga kerangka suatu benda. Selain dari jiwa, ada berbagai macam ruh yang menempatiaseluruhaalamasemesta, yakni  di laut, udara, dan hutan belantara.                           .                                                                                      

Menurut keyakinan orang Mentawai, jiwa manusia atau magere terletak di ubun-ubun kapala. Jiwa itu suka berpetualang di luar jasmani saat orangnya tidur, yang merupakan mimpinya
.                               .

Bila jiwa keluar dari tubuh bisa terjadi bahwa jiwa itu bertemu dengan ruh jahat. Akibatnya tubuh akan sakit, dan bila jiwa dalam keadaan itu mencari perlindungan pada ruh nenek-moyang, maka tubuh mungkin akan meninggal. Jiwa tak akan kembali lagi ke tubuh dan menjadi ketsat (ruh)
.                                  .

Tubuh orang yang telah ditinggalkan magere atau jiwanya menjadi ketsat atau ruh, atau dengan lain kata, orang tersebut telah meninggal. Tubuh yang ditinggalkan berwujud daging dan tulang itu dianggap masih ada jiwanya, yang disebut pitok. Pitok inilah yang amat ditakuti oleh manusia, karena substansi itu akan berupaya mencari tubuh manusia lain, agar bisa tetap berada di dunia yang fana ini. Untuk menghindarinya pitok ini diusir dari rumah orang yang meninggal maupun dari uma dengan upacara karena di tempat itu pitok itu juga bisa bersembunyi mencari mangsanya
.                                                               .

Seperti dalam banyak sistem religi di dunia, religi asli orang Mentawai juga mempunyai masa nyepi, atau menghentikan aktivitas hidup untuk sementara, yatu masa lia dan punen yang dianggap suci. Lia adalah menghentikan aktivitas hidup dalam rangka keluarga inti, dan biasanya menyangkut masa-masa yang penting sepanjang hidup, seperti membangun lalep, atau rumah tangga inti, kelahiran, perkawinan, masa ada anggota keluarga sakit, kematian, dan membuat perahu. Punen adalah nyepi dalam rangka masyarakat dewa sebagai keseluruhan dan biasanya menyangkut masa sebelum dan sesudah membangun uma, kecelakaan, saat berjangkitnya wabah penyakit menular, dan pada waktu terjadi kecelakaan atau karena pembunuhan, yang mengakibatkan banyak orang mati
.                                                              .

Apabila anggota suatu keluarga menjalankan lia atau punen, mereka tak boleh bekerja. Bahkan seperti telah tersebut di atas, kalau pada masa lia atau punen terjadi kematian, jenazah tak boleh diurus dulu tetapi dibiarkan saja dan hanya ditutup daun
.                                                               .

Walaupun semua aktivitas berhenti, untuk waktu yang lama kadang-kadang sampai berminggu-minggu, orang diperbolehkan makan dan minum seperti biasa. Karena itu lia dan punen itu tidak merupakan puasa.

Punen yang berlangsung lama adalah punen untuk pengukuhan rimata dan sikere, yaitu pemimpin dan dukun. Upacara yang menyertai punen bisa berlangsung sekitar dua bulan
.                                                    .

Erat kaitannya dengan konsep lia dan punen adalah konsep pantangan atau keikei, yaitu melanggar pantangan, terutama dalam masa-masa yang suci (atau dalam rangka upacara-upacara yang suci) dan pelanggarannya akan dihukum dengan hukuman gaib. Hukuman gaib itu harus dihilangkan dengan denda-adat atau tulon tersebut di atas
.                                                           .

Untuk menempatkan benda-benda baru ke dalam uma, harus diadakan upacara terlebih dahulu, dan benda baru tersebut harus diletakkan di samping benda yang lama. Tujuannya adalah agar supaya bajou dari benda yang lama tidak marah dan agar “mereka” dapat berkenalan. Tanpa upacara akan terjadi sesuatu di dalam uma yang bersangkutan. Begitu juga dengan kedatangan orang dari kelompok kerabat lain ke dalam uma, seperti misalnya dalam perkawinan, disertai upacara yang gunanya untuk menetralisir pengaruh bajou. Bajou dapat membawa penyakit panas dan demam, karena itu benda-benda yang ada di dalam uma harus diperciki air yang bermantera
.                                                                                           .

Benda-benda Perantara Antara Dunia Gaib Nyata  Serupa dengan di semua sistem kepercayaan atau religi lokal di dunia, arat sabulungan orang Mentawai juga mengenal ilmu gaib yang berdasarkan dua keyakinan, ialah (1) keyakinan akan adanya hubungan gaib antara hal-hal yang walaupun berbeda fungsinya, mirip wujud, warna, sebutan atau bunyinya; dan (2) keyakinan akan adanya kekuatan gaib yang sakti tetapi tak berkemauan atau bajou dalam alam sekitar manusia.                                           .

Baik segala macam ilmu gaib produktif yang merupakan bagian dari upacara kesuburan tanah misalnya, atau ilmu gaib protektif yang juga sangat penting dalam ilmu obat-obatan dan penyembuhan penyakit secara tradisional, maupun segala macam ilmu gaib destruktif yang antara lain dipergunakan dalam ilmu sihir dan guna-guna, semuanya bisa dikembalikan kepada kedua keyakinan tersebut di atas. Ilmu gaib produktif dan protektif yang biasanya merupakan ilmu gaib putih atau baik, dilakukan oleh sikerei, sedang ilmu gaib destruktif yang biasanya merupakan ilmu gaib hitam atau jahat dilakukan oleh pananae. Seperti juga dalam banyak sistem kepercayaan dan religi lokal di dunia, kekuatan sakti yang tak berkemauan (bajou), dalam sistem kepercayaan orang Mentawai juga dianggap beradal dalam segala hal yang luar biasa dan dalam benda-benda keramat, serta dalam uma (sebagai rumah umum yang keramat). Benda-benda itu, yang seperti telah tersebut di atas adalah amat simagere, batu kerebau buluat, orat simagere, dan tudukut, serta dapat ditambah lagi dengan sejumlah daun-daunan dan akar-akar kering dari tumbuh-tumbuhan berkhasiat yang disebut bakkat katsaila, berfungsi sebagai jimat (tae) penolak bahaya gaib atau sebagai benda untuk mengundang ruh yang baik[2]
.                                                     .


Mitos-mitos
1.      Siakau menjadi Biawak (asal mula manusia)
Pada mulanya bumi ini kosong. Yang ada hanya roh-roh jahat yang mendiami dan menguasai kegelapan. satu sama lainnya saling berperang. Bintang-bintang adalah senjata dan peluru yang dipakai untuk berperang. Bintang-bintang itu dipetik dari langit dan kemudian dilemparkan ke lawan. Mereka juga meraba bulan dan matahari yang kala itu sedang berperang pula.
Siakau, adalah roh jahat yang paling berkuasa, dari semua roh yang ada. Roh lainnya memusuhi Siakau dan ingin mengusirnya. Siakau tidak tinggal diam dan tak mau mengalah. Api dendam selalu membara di dadanya. Untuk kewaspadaan, ia membuat senjata dari bambu. Tatkala ia memotong bambu, dari dalamnya keluar empat manusia, mungkin dua pasang suami istri. Siakau mencoba menangkapnya, tetapi tidak bisa karena larinya sangat kencang.
Satu pasang suami istri itu membuat pondok dan menggarap ladang. Panen mereka tidak berhasil karena dimakan oleh tikus dan monyet, sehingga mereka sangat kelaparan. Siakau merasa kasihan atas nasib malang mereka dan berjanji akan membantu mereka. Siakau menawarkan diri menjaga ladang itu, supaya bebas dari hama tikus dan monyet.
Untuk mengalahkan tikus dan monyet, Siakau berubah menjadi biawak. Tetapi usaha dan daya upaya Siakau tidak mempan dan sia-sia belaka. Siakau yang terlanjur menjadi biawak merasa sedih dan prihatin akan nasib kehidupan manusia. Apa hendak dikata, dia tidak berdaya sama sekali, timbullah rasa sesalnya.
Tumbuh rasa cemas di pikiran Siakau, kalau nantinya manusia menjatuhkan tuduhan bahwa ialah yang merusak tanaman tersebut. Dugaan dan tuduhan itu bisa saja terjadi karena biawak itu tidak cocok dengan roh Siakau.
Akhirnya, niat baik Siakau diganti dengan pengorbanan jiwanya sendiri. Sepasang manusia tersebut membunuh dan memakan biawak jadi-jadiaan itu dengan lahap. Namun, setelah memakan daging biawak itu, mereka menderita seolah diracuni oleh suatu kekuatasan misterius sehingga akhirnya mati. Kejadian itu dilihat oleh sepasang manusia lainnya. Timbul rasa takut dalam diri mereka, dan akhirnya mereka lari menyelamatkan diri. Mereka inilah yang menjadi nenek moyang orang Mentawai.

2.      Asal mula terbaginya pulau Pagai (terpisahnya kepulauaan pagai utara dan selatan)
Pada zaman dahulu kala, Pagai Utara dan Pagai Selatan merupakan satu pulau. Pada pertengahan pulau itu berdiri sebuah bukit kecil yang ditumbuhi rimba belantara yang angker dan sangat mengerikan bagi penduduk setempat. Dalam hutan rimba yang lebat itu bersemayam seekor burung elang hitam yang sangat galak lagi buas dan sangat menakutkan.
Pada mulanya penduduk sama sekali tidak mengetahui bahwa hilang-lenyapnya bayi-bayi itu akibat keserakahan si Manyang. Kaum ibu berkabung dan merasa sedih atas kehilangan anak-anaknya secara tiba-tiba. Kejadian itu menjadi buah bibir dan merupakan teka-teki misterius.
Kaum lelaki mulai mengadakan musyawarah, mencari akal bagaimana mengatasi situasi amat gawat itu. Mereka sepakat dan bertekat bulat mencari pencuri bayi-bayi itu. Berhari-hari mereka masuk dan keluar hutan siap dengan busur dan anak panahnya. Akan tetapi usaha mereka yang sudah berminggu-minggu itu tidak memperoleh hasil. Hati mereka semakin kecut, cemas, kecewa dan nyaris putus asa. Tetapi pada suatu hari mereka menemukan jalan setapak yang menghantarkan mereka ke puncak bukit kecil itu. Di sana, mereka menemukan tulang belulang anak manusia yang berserakan di bawah sebuah pohon raksasa. Tahulah mereka sekarang, bahwa di atas pohon besar itu bersarang si Manyang yang telah memangsai anak-anak mereka selama ini.
Pohon itu harus ditebang, supaya burung jahanam itu jangan lagi bersarang dan segera enyah dari Pagai. Usaha penebangan mulai dilakukan. Waktu yang tepat harus di malam hari. Pada malam pertama, hasil kerja mereka sangat mengecewakan. Pohon itu sangat keras dan liat. Malam berikutnya, dilakukan lagi penebangan. Aneh sekali dan sangat mengherankan, ternyata keesokan harinya bagian yang telah ditetak, kembali seperti keadaan semula. Pohon raksasa itu utuh kembali seolah-olah punya kesaktian dan kekebalan. Namun keadaan ini tidak melumpuhkan semangat mereka, bahkan membuat hati mereka semakin kuat untuk menumbangkan pohon tersebut. Mereka telah berketetapan hati untuk menumbangkannya dalam waktu satu malam saja. Oleh sebab itu, kerja mereka harus lebih intensif dan berkesinambungan tanpa henti dan mengenal lelah.
Setelah semalam suntuk bekerja keras membanting tulang, berhasillah usaha mereka. Pagi harinya, ketika fajar merekah, tumbanglah pohon raksasa itu dengan dahsyatnya. Pohon itu rebah membelintang ke sebelah barat membagi Pulau Pagai menjadi dua bagian. Begitu besar dan beratnya pohon itu, sehingga tanah yang ditimpanya terbelah dan air lautpun naik mengenangi daratan.
Terjadilah sebuah selat yang membagi dua Pulau Pagai, yaitu Pagai Utara dan Pagai Selatan. Bukit dimana pohon raksasa itu tumbuh menjelma menjadi sebuah pulau kecil di depan selat di timur. Bukit kecil itu dikenal dengan nama Bakat Minuang dan selat itu bernama Selat Sikakap.
3.      Ular oyton dan si bungsu (asal mula perkawinan monogami di mentawai)
Dahulu kala di sebuah dusun, tinggal satu keluarga kecil. Kedua suami istri itu mempunyai tiga orang anak perempuan. keluarga itu memelihara seekor ular python besar di dekat rumahnya, tempat mereka minta api. Tidak lama kemudian orang tua mereka meninggal dunia, tinggal tiga orang anak gadis itu.
Pada suatu hari berkatalah anak yang sulung kepada adiknya: "Sekarang aku akan menutup unggunan api. Kalau nanti apinya padam, akulah sendiri yang akan pergi ke sarang ular python meminta api."
Lalu ditutupnya api itu, dan sewaktu ia bangun pagi, bara api masih menyala dan mereka langsung memasak. Setiap hari mereka harus mencari makanan karena tidak ada yang membantu. Ketika malam datang, giliran adik kedua yang menjaga api. Dan dia melakukannya dengan baik dimana api tidak padam.
Malam berikutnya, giliran yang bungsu yang menjaga api. Kakaknya bermaksud jahat padanya. Ketika orang lagi tidur, kakaknya yang sulung menyiram api unggun tersebut sampai padam. Pagi harinya, si bungsu dimarahi sebab api unggun padam dan langsung diperintahkan kepadanya untuk minta api kepada ular python besar. Kalau tidak mau mereka akan membunuh si bungsu.
Dengan rasa takut akan dipatuk, si bungsu menuju sarang ular tersebut dan berkata ingin meminta api. Ular python bersedia memberi dia api dengan syarat si bungsu mau kawin dengannya. Syarat itu disanggupi oleh si bungsu, dan diadakanlah punen untuk perayaan perkawinan si bungsu dengan ular python.
Ular python itu sendiri merupakan jelmaan seorang pemuda tampan yang selalu berubah menjadi manusia ketika istrinya pergi ke ladang, dan menggoda istrinya tersebut. Istrinya sendiri tidak mengacuhkan godaan pemuda itu dan diapun tidak tahu, bahwa pemuda itu adalah suaminya, si ular python.
Berdasarkan informasi dari penduduk, si Bungsu tahu bahwa suaminyalah yang menjelma menjadi manusia dan menggoda ketika dia bekerja. Suatu ketika, si Bungsu pura-pura pergi ke ladang, dan ketika suaminya berubah menjadi manusia dan pergi ke ladang, si Bungsu masuk dan membakar kulit ular tersebut. Akhirnya, si pemuda tidak bisa berubah lagi menjadi ular dan mereka hidup sebagai sepasang suami istri yang berbahagia.
4.      Sitakki gagailau (asal kerei)
Ibunya kesal melihat perangai anaknya ini dan menegurnya. Namun, teguran ibunya tidak diperdulikan, bahkan timbul marahnya, dan ia berniat minggat dari rumah orang tuanya. Dicarinya akal bagaimana ia bisa keluar rumah.
Pada suatu hari ia pergi ke ladang bersama dengan ibunya. Sengaja ditancapkan pisau belatinya di dekat ibunya yang sedang bekerja. Tanpa sengaja pisau tersebut tergaet oleh ibunya dan patah. Lalu ia menangis dan berontak kepada ibunya. Ibunya jadi marah, hanya karena hal sepele saja ia jadi sakit hati. Sang pemuda berpikir, inilah saatnya untuk melarikan diri dari rumah. Ayahnya membujuk, tapi ia berkeras hati hendak pergi.
Pada suatu ketika ia pergi berburu bersama dengan orang banyak. Waktu diajak pulang setelah selesai berburu, ia tak mau. Semua orang heran dan mencoba mengajaknya pulang ke rumah. Namun ia tetap menolaknya.
Kemudian ia memanjat pohon, melompat dari dahan ke dahan persis seperti seekor bilou (siamang). Lalu berkata kepada pemburu lainnya:                                        :
"Hai, paman pulang sajalah! Nanti manakala paman sudah sampai di rumah, tabuhlah tuddukat (gendang panjang). Apabila paman mendengar teriakan saya dari kejauhan, paman akan mengerti bahwa saya tidak dapat lagi kembali menjadi manusia". Semua teman berburu kembali pulang dengan tanda-tanya dalam hati masing-masing.
Menetaplah ia di atas pohon bersama dengan siamang lainnya, karena ia memang telah menjelma menjadi seekor siamang.
Kemudian datanglah penduduk langit (Taikamanua) ke dekat siamang jadi-jadian itu. Orang langit ingin tahu apa sebenarnya yang dikehendakinya. Siamang jadian itu berkata bahwa ia ingin lebih gagah dan tampan dari semua manusia, tetapi ternyata ia menjadi siamang.
Ia diajak bersama-sama naik ke langit. Setelah sampai di langit, Sitakkigagailau disihir menjadi gagah dan tampan, serupa dengan penduduk langit. Lalu penduduk langit berpesan kepadanya, nanti kalau sudah sampai di negerinya, jangan lupa mengadakan punen, memberikan persembahan. Sitakkigagailau minta supaya diberi kekuatan gaib untuk dapat membuat hal-hal ajaib di hadapan penduduk dunia, sehingga menakjubkan mereka. Nanti manakala mereka melihat keajaiban itu, tentu mereka akan memuji kekuasaan dari langit.
Alhasil, dengan kekuatan seperti mengobati orang sakit dan kekuatan-kekuatan lainnya, ia diturunkan menjadi kerei.




[2] Masyarakat Terasing di Indonesia Koentjaraningrat, dkk. 1993.. Jakarta: Gramedia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar