Letak kepulaan mentawai
Kepulauan
mentawai terletak di barat pulau sumatra, kepulauan ini termasuk kabupaten
mentawai , propinsi Sumatra Barat. Ibukota kabupaten Tua pejat di pulau Sipora.
Ada sekitar 40 pulau di kepulauan
ini, namun hanya empat yang berpenghuni , yaitu siberut, pagai utara dan
selatan dan pulau sipora. Orang asli mentawai berasal dari pulau si berut.
Migrasi orang asli ke tiga pulau lainnya di picu oleh berbagai hal, di antaranaya
bencana alam seperti banjir, wabah penyakit, dan konflik antara klan dalam suku
ini. Kepulauan mentawai merupakan kawasan hutan tropis basah yang kaya akan
vegetasi seperti sagu, meranti putih, keruing, dan gaharu yang kini sudah
langka.
Tempat
tinggal
Masyarakat Mentawai bersifat patrinial dan kehidupan sosialnya
dalam suku tersebut. Struktur sosial tradisional adalah kebersamaan, mereka
tinggal di rumah besar yang disebut juga “uma” yang berada di tanah-tanah suku.
Seluruh makanan, hasil hutan dan pekerjaan dibagi dalam satu uma.
Rumah
tradisional / adat suku Mentawai masih banyak kita di jumpai di kabupaten
Kepulauan Mentawai, provinsi Sumatera Barat, Indonesia.
Uma biasanya dihuni oleh 5 hingga 7 kepala keluarga dari keturunan
yang sama. Satu diantaranya anggota yang tinggal dalam sebuah rumah disebut
Sikerei. Sikerei itulah yang oleh suku Mentawai dianggap sebagai tetua. Uma
menjadi pusat kehidupan bagi suku Mentawai. Di dalam Uma itulah, suku Mentawai
tinggal, menyelenggarakan pertemuan dan melaksanakan berbagai macam acara adat,
seperti penikahan. Uma juga menjadi tempat untuk menyembuhkan anggota keluarga
jika ada yang sakit.
Uma
adalah rumah besar yang berfungsi sebagai balai pertemuan semua kerabat dan
upacara-upacara bersama bagi semua anggotanya. Uma terbuat dari kayu kokoh dan
berbentuk rumah panggung yang dibawahnya digunakan sebagai tempat pemeliharaan
ternak seperti babi.
Selain
bangunan rumah utama atau uma ada macam bangunan lain yang di sebut:
Lalep tempat
tinggal yang di peruntukan suami istri yang pernikahannya sudah dianggap sah
secara adat. Biasanya lalep terletak di dalam Uma.
Rusuk suatu
pemondokan khusus, tempat penginapan bagi anak-anak muda, para janda dan mereka
yang diusir dari kampung atau orang-orang yang di asingkan karena melanggar
aturan adat suku mentawai.
KontruksiBangunanUma
Secara umum konstruksi uma ini dibangun tanpa menggunakan paku, tetapi dipasak dengan kayu serta sistem sambungan silang bertakik.
Secara umum konstruksi uma ini dibangun tanpa menggunakan paku, tetapi dipasak dengan kayu serta sistem sambungan silang bertakik.
Bangunan
uma menyerupai atap tenda memanjang yang dibangun diatas tiang-tiang, karena
atap yang terbuat dari rumbia yang menaungi menjulur ke bawah sampai hampir
mencapai lantai rumah. Pohon sagu atau rumbia merupakan bahan penutup atap dari
daun daun pohon rumbia yang banyak tumbuh di rawa atau di pantai. Kelebihan menggunakan
atap rumbia yaitu terlihat alami, menimbulkan suasana baru, ringan dan relatif
murah. Sedangkan kekurangannya ialah daya tahan maksimal 4 tahun, sulit
melakukan upaya perbaikan atau pergantian, dan rawan bocor bila terjadi hujan
lebat.
Kerangka
bangunan, terdiri dari lima perangkat konstruksi dari tonggak-tonggak,
balok-balok, dan tiang-tiang penopang atap. Kerangka bangunan ini dibangun
berjejer melintang ke belakang dan saling berhubungan dengan balok memanjang.
Kekuatan
struktur Uma dihasilkan oleh teknik ikat, tusuk dan sambung sedemikian rupa.
Bahan Uma diambil dari alam sekitar dan dipilih yang bermutu baik.
Luas
rumah persatuan kepala keluarga dengan rata-rata panjang : 31 m, lebar : 10 m,
dan tinggi = 7 m. Pembagian ruangannya cukup sederhana, di bagian depan adalah
serambi terbuka yang merupakan tempat untuk menerima tamu. Sedang pada bagian
dalam digunakan untuk ruang tidur keluarga. Di ruangan ini terdapat pula
perapian yang digunakan untuk memasak suatu keadaan yang wajar mengingat kegiatan
siang hari bagi laki-laki dihabiskan di ladang atau di hutan, sementara
istrinya bertugas di kebun halaman dan memasak.
Bangunan
uma ini terdiri atas dua bagian ruangan besar. Di depan ada beranda yang luas
tanpa dinding yang berfungsi untuk ruang tamu dan ruang keluarga berkumpul dan
bercakap-cakap pada malam hari. Di belakangnya, ruangan yang berdinding menjadi
ruang tidur dan dapur, tanpa sekat.
Sisi
depan rumah ditutup dengan dinding atap rumbia yang terbentang kebawah sampai
batas 1 m (tempat masuk) 1,5 meter dari lantai. Rumbia atau disebut
juga (pohon) sagu adalah nama sejenis palma penghasil pati sagu.
Dinding
sebelah dalam diatas tempat masuk diperkokoh dengan selembar papan yang dihiasi
gambar (tagga) atau ukiran, sedangkan ruangan dibawahnya dan sisi kanan dan
kirinya tidak berdinding, yang disebut serambiadidepanaKolongTerdapat
dibawah rumah tempat tinggal dan tidak memiliki dinding. Kolong ini
dimanfaatkan sebagai tempat untuk berternak babi.
Ornamen/ragamhias
Pola-pola ornamen atau dekorasi rumah Mentawai, sangat dipengaruhi oleh pengaruh India wujudnya berupa bentukan sulur-sulur yang bentuk tumbuh-tumbuhannya dengan dedaunan dan bunga-bungaan.
Pola-pola ornamen atau dekorasi rumah Mentawai, sangat dipengaruhi oleh pengaruh India wujudnya berupa bentukan sulur-sulur yang bentuk tumbuh-tumbuhannya dengan dedaunan dan bunga-bungaan.
PEMBAGIAN RUANG UMA
Di muka tempat masuk yang sebenarnya. Disini terdapat batu pengasah kapak dan pisau, dan ditaruh bumbung bambu yang besar untuk dipakai para wanita dan anak- anak untuk mengambil air dari anak sungai yang dekat dengan rumah. Sedangkan para pria memakai tempat ini pada siang hari yang pengap dan bercuaca mendung untuk mengurus perkakas.
Dinding
sebelah dalam diatas tempat masuk diperkokoh dengan selembar papan yang
seringkali dihiasi ukiran atau gambar (tangga).Ruangan dibawahnya terbuka, dan
sisi kanan dan kirinya bagian pertama dari rumah yang berada dibawah naungan
atap tidak berdinding, yang biasa disebut dengan serambi depan atau kagareat
dengan panjang lima meter.
1.
Diantara tiang-tiang dipasang bangku-bangku disebelah kiri dan kanannya.
2.
Beranda depan difungsikan untuk berkumpul, mengobrol dan menerima tamu.
Ruang
dalam pertama, cahaya diperoleh lewat lubang pintu, ruangan yang dimaksud
berwujud seperti bangsal yang panjang dan gelap dengan dinding papan yang
menutupi sisi samping dan belakangnya. Kecuali lewat lubang pintu tingkap,
kadang cahaya diperoleh lewat celah yang terjadi dengan jalan melepaskan salah
satu papan dinding, dengan cara seperti ini jg dapat dipergunakan untuk masuk
ke bilik-bilik samping (jairabba) yang berada di bawah bagian samping atap,
dengan lantai panggung tersendiri. Pada panggung seperti ini ditaruh tuddukat,
yaitu perangkat keuntungan ynag terdiri dari empat batang kayu yang dilubangi
dengan cara membuat celah dan dengan panjang satu setengah sampai tiga meter.
Pertengahan
rumah, terdapat konstruksi balok yang melintang. Dilantai sebelah depannya ada
perapian yang lebarnya mengisi seluruh lorong tengah, berfungsi sebagai tempat
memasak seluruh kelompok saat perayaan. Perapian terbuat dari tanah yang
dipadatkan dalam segi empat yang dibentuk oleh balok-balok yang saling
dihubungkan dalam sistem pasak.
Ruanganumaterbagimenjadi2bagian,yaitu
:
a. Bagian depan : adalah serambi terbuka yang merupakan tempat untuk berkumpul, mengobrol, dan menerima tamu. Di malam hari tempat ini dipakai untuk bercerita atau bercakap-cakap tentang kejadian sehari-hari, serta di gunakan sebagai ruang tidur bagi para pria.
a. Bagian depan : adalah serambi terbuka yang merupakan tempat untuk berkumpul, mengobrol, dan menerima tamu. Di malam hari tempat ini dipakai untuk bercerita atau bercakap-cakap tentang kejadian sehari-hari, serta di gunakan sebagai ruang tidur bagi para pria.
b.
Bagian dalam : digunakan untuk ruang tidur keluarga. Di ruangan ini terdapat
pula perapian yang digunakan untuk memasak. Pada bagian tengah Uma terdapat
ruangan untuk berkumpul dan dan menarikan tarian adat Mentawai.
Jenis-jenisaruanganapadaaUmaaBerdasarkanaUrutanadariaDepanaSampaiaBelakang.
1. Panggung : terbuat dari hamparan papan-papan yang tidak halus, yang terletak di sisi depan rumah. Disini terdapat batu pengasah, kapak, dan pisau. Juga ditaruh bumbung bambu yang besar-besar yang dipakai para wanita dan anak-anak untuk mengambil air dari anak sungai yang berada di dekat rumah, sedangkan para pria memakai tempat itu pada siang hari untuk bekerja mengurus perkakas.
1. Panggung : terbuat dari hamparan papan-papan yang tidak halus, yang terletak di sisi depan rumah. Disini terdapat batu pengasah, kapak, dan pisau. Juga ditaruh bumbung bambu yang besar-besar yang dipakai para wanita dan anak-anak untuk mengambil air dari anak sungai yang berada di dekat rumah, sedangkan para pria memakai tempat itu pada siang hari untuk bekerja mengurus perkakas.
2.
Serambi depan : tempat untuk berkumpul dan tempat tidur para pria dan juga pada
sisi kanan dan kirinya ada bangku kayu untuk menerima tamu.
3.
Ruang dalam pertama : disini terdapat ruangan yang berwujud bangsal panjang dan
gelap dengan dinding kurang lebih setinggi orang yang menutupi sisi samping dan
belakang. Pencahayaan dalam ruang diperoleh lewat lubang pintu atau dengan
dilepaskannya salah satu papan dinding. Biasanya ruangan ini digunakan untuk
menjamu tamu dan tempat segala rapat dan upacara adat digelar.
4.
Ruang dalam kedua : di berikan sekat dengan kayu-kayu sehingga memisahkan ruang
utama. Dilantai sebelah depannya terdapat perapian yang lebarnya mengisi
seluruh lorong tengah tempat masuk pada waktu perayaan. Disisi kanan perangkat
konstruksi balok melintang ketiga ini, tempat untuk menggantungkan
bejana-bejana sajian untuk upacara memohon keberhasilan dalam berburu. Di
lorong tengah, anatara perapian dan dinding belakang bangsal, lantainya terbuat
dari papan lebar yang diserut sampai halus, yang merupakan tempat untuk menari[1].
Mayoritas orang Mentawai memeluk agama Katolik dan sebagian
beragama Protestan, Islam atau Bahai. Walaupun demikian sebagian besar orang
Mentawai tetap memegang teguh religinya yang asli, ialah Arat Sabulungan. Arat berarti “adat” dan bulungan
berasal dari kata bulu (daun). .
Dalam religinya, bukan hanya manusia yang mempunyai jiwa, tetapi juga
hewan, tumbuh-tumbuhan, batu, air
terjun sampai pelangi, dan juga kerangka suatu benda. Selain dari jiwa, ada
berbagai macam ruh yang menempatiaseluruhaalamasemesta, yakni di laut, udara, dan hutan belantara. .
Menurut keyakinan orang Mentawai, jiwa manusia atau magere terletak di ubun-ubun kapala. Jiwa itu suka berpetualang di luar jasmani saat orangnya tidur, yang merupakan mimpinya. .
Bila jiwa keluar dari tubuh bisa terjadi bahwa jiwa itu bertemu dengan ruh jahat. Akibatnya tubuh akan sakit, dan bila jiwa dalam keadaan itu mencari perlindungan pada ruh nenek-moyang, maka tubuh mungkin akan meninggal. Jiwa tak akan kembali lagi ke tubuh dan menjadi ketsat (ruh). .
Tubuh orang yang telah ditinggalkan magere atau jiwanya menjadi ketsat atau ruh, atau dengan lain kata, orang tersebut telah meninggal. Tubuh yang ditinggalkan berwujud daging dan tulang itu dianggap masih ada jiwanya, yang disebut pitok. Pitok inilah yang amat ditakuti oleh manusia, karena substansi itu akan berupaya mencari tubuh manusia lain, agar bisa tetap berada di dunia yang fana ini. Untuk menghindarinya pitok ini diusir dari rumah orang yang meninggal maupun dari uma dengan upacara karena di tempat itu pitok itu juga bisa bersembunyi mencari mangsanya. .
Seperti dalam banyak sistem religi di dunia, religi asli orang Mentawai juga mempunyai masa nyepi, atau menghentikan aktivitas hidup untuk sementara, yatu masa lia dan punen yang dianggap suci. Lia adalah menghentikan aktivitas hidup dalam rangka keluarga inti, dan biasanya menyangkut masa-masa yang penting sepanjang hidup, seperti membangun lalep, atau rumah tangga inti, kelahiran, perkawinan, masa ada anggota keluarga sakit, kematian, dan membuat perahu. Punen adalah nyepi dalam rangka masyarakat dewa sebagai keseluruhan dan biasanya menyangkut masa sebelum dan sesudah membangun uma, kecelakaan, saat berjangkitnya wabah penyakit menular, dan pada waktu terjadi kecelakaan atau karena pembunuhan, yang mengakibatkan banyak orang mati. .
Apabila anggota suatu keluarga menjalankan lia atau punen, mereka tak boleh bekerja. Bahkan seperti telah tersebut di atas, kalau pada masa lia atau punen terjadi kematian, jenazah tak boleh diurus dulu tetapi dibiarkan saja dan hanya ditutup daun. .
Walaupun semua aktivitas berhenti, untuk waktu yang lama kadang-kadang sampai berminggu-minggu, orang diperbolehkan makan dan minum seperti biasa. Karena itu lia dan punen itu tidak merupakan puasa.
Punen yang berlangsung lama adalah punen untuk pengukuhan rimata dan sikere, yaitu pemimpin dan dukun. Upacara yang menyertai punen bisa berlangsung sekitar dua bulan. .
Erat kaitannya dengan konsep lia dan punen adalah konsep pantangan atau keikei, yaitu melanggar pantangan, terutama dalam masa-masa yang suci (atau dalam rangka upacara-upacara yang suci) dan pelanggarannya akan dihukum dengan hukuman gaib. Hukuman gaib itu harus dihilangkan dengan denda-adat atau tulon tersebut di atas. .
Untuk menempatkan benda-benda baru ke dalam uma, harus diadakan upacara terlebih dahulu, dan benda baru tersebut harus diletakkan di samping benda yang lama. Tujuannya adalah agar supaya bajou dari benda yang lama tidak marah dan agar “mereka” dapat berkenalan. Tanpa upacara akan terjadi sesuatu di dalam uma yang bersangkutan. Begitu juga dengan kedatangan orang dari kelompok kerabat lain ke dalam uma, seperti misalnya dalam perkawinan, disertai upacara yang gunanya untuk menetralisir pengaruh bajou. Bajou dapat membawa penyakit panas dan demam, karena itu benda-benda yang ada di dalam uma harus diperciki air yang bermantera. .
Menurut keyakinan orang Mentawai, jiwa manusia atau magere terletak di ubun-ubun kapala. Jiwa itu suka berpetualang di luar jasmani saat orangnya tidur, yang merupakan mimpinya. .
Bila jiwa keluar dari tubuh bisa terjadi bahwa jiwa itu bertemu dengan ruh jahat. Akibatnya tubuh akan sakit, dan bila jiwa dalam keadaan itu mencari perlindungan pada ruh nenek-moyang, maka tubuh mungkin akan meninggal. Jiwa tak akan kembali lagi ke tubuh dan menjadi ketsat (ruh). .
Tubuh orang yang telah ditinggalkan magere atau jiwanya menjadi ketsat atau ruh, atau dengan lain kata, orang tersebut telah meninggal. Tubuh yang ditinggalkan berwujud daging dan tulang itu dianggap masih ada jiwanya, yang disebut pitok. Pitok inilah yang amat ditakuti oleh manusia, karena substansi itu akan berupaya mencari tubuh manusia lain, agar bisa tetap berada di dunia yang fana ini. Untuk menghindarinya pitok ini diusir dari rumah orang yang meninggal maupun dari uma dengan upacara karena di tempat itu pitok itu juga bisa bersembunyi mencari mangsanya. .
Seperti dalam banyak sistem religi di dunia, religi asli orang Mentawai juga mempunyai masa nyepi, atau menghentikan aktivitas hidup untuk sementara, yatu masa lia dan punen yang dianggap suci. Lia adalah menghentikan aktivitas hidup dalam rangka keluarga inti, dan biasanya menyangkut masa-masa yang penting sepanjang hidup, seperti membangun lalep, atau rumah tangga inti, kelahiran, perkawinan, masa ada anggota keluarga sakit, kematian, dan membuat perahu. Punen adalah nyepi dalam rangka masyarakat dewa sebagai keseluruhan dan biasanya menyangkut masa sebelum dan sesudah membangun uma, kecelakaan, saat berjangkitnya wabah penyakit menular, dan pada waktu terjadi kecelakaan atau karena pembunuhan, yang mengakibatkan banyak orang mati. .
Apabila anggota suatu keluarga menjalankan lia atau punen, mereka tak boleh bekerja. Bahkan seperti telah tersebut di atas, kalau pada masa lia atau punen terjadi kematian, jenazah tak boleh diurus dulu tetapi dibiarkan saja dan hanya ditutup daun. .
Walaupun semua aktivitas berhenti, untuk waktu yang lama kadang-kadang sampai berminggu-minggu, orang diperbolehkan makan dan minum seperti biasa. Karena itu lia dan punen itu tidak merupakan puasa.
Punen yang berlangsung lama adalah punen untuk pengukuhan rimata dan sikere, yaitu pemimpin dan dukun. Upacara yang menyertai punen bisa berlangsung sekitar dua bulan. .
Erat kaitannya dengan konsep lia dan punen adalah konsep pantangan atau keikei, yaitu melanggar pantangan, terutama dalam masa-masa yang suci (atau dalam rangka upacara-upacara yang suci) dan pelanggarannya akan dihukum dengan hukuman gaib. Hukuman gaib itu harus dihilangkan dengan denda-adat atau tulon tersebut di atas. .
Untuk menempatkan benda-benda baru ke dalam uma, harus diadakan upacara terlebih dahulu, dan benda baru tersebut harus diletakkan di samping benda yang lama. Tujuannya adalah agar supaya bajou dari benda yang lama tidak marah dan agar “mereka” dapat berkenalan. Tanpa upacara akan terjadi sesuatu di dalam uma yang bersangkutan. Begitu juga dengan kedatangan orang dari kelompok kerabat lain ke dalam uma, seperti misalnya dalam perkawinan, disertai upacara yang gunanya untuk menetralisir pengaruh bajou. Bajou dapat membawa penyakit panas dan demam, karena itu benda-benda yang ada di dalam uma harus diperciki air yang bermantera. .
Benda-benda Perantara Antara Dunia Gaib Nyata Serupa dengan di semua sistem
kepercayaan atau religi lokal di dunia, arat sabulungan orang Mentawai juga
mengenal ilmu gaib yang berdasarkan dua keyakinan, ialah (1) keyakinan akan
adanya hubungan gaib antara hal-hal yang walaupun berbeda fungsinya, mirip
wujud, warna, sebutan atau bunyinya; dan (2) keyakinan akan adanya kekuatan
gaib yang sakti tetapi tak berkemauan atau bajou dalam alam sekitar manusia. .
Baik segala macam ilmu gaib produktif yang merupakan bagian dari upacara kesuburan tanah misalnya, atau ilmu gaib protektif yang juga sangat penting dalam ilmu obat-obatan dan penyembuhan penyakit secara tradisional, maupun segala macam ilmu gaib destruktif yang antara lain dipergunakan dalam ilmu sihir dan guna-guna, semuanya bisa dikembalikan kepada kedua keyakinan tersebut di atas. Ilmu gaib produktif dan protektif yang biasanya merupakan ilmu gaib putih atau baik, dilakukan oleh sikerei, sedang ilmu gaib destruktif yang biasanya merupakan ilmu gaib hitam atau jahat dilakukan oleh pananae. Seperti juga dalam banyak sistem kepercayaan dan religi lokal di dunia, kekuatan sakti yang tak berkemauan (bajou), dalam sistem kepercayaan orang Mentawai juga dianggap beradal dalam segala hal yang luar biasa dan dalam benda-benda keramat, serta dalam uma (sebagai rumah umum yang keramat). Benda-benda itu, yang seperti telah tersebut di atas adalah amat simagere, batu kerebau buluat, orat simagere, dan tudukut, serta dapat ditambah lagi dengan sejumlah daun-daunan dan akar-akar kering dari tumbuh-tumbuhan berkhasiat yang disebut bakkat katsaila, berfungsi sebagai jimat (tae) penolak bahaya gaib atau sebagai benda untuk mengundang ruh yang baik[2]. .
Baik segala macam ilmu gaib produktif yang merupakan bagian dari upacara kesuburan tanah misalnya, atau ilmu gaib protektif yang juga sangat penting dalam ilmu obat-obatan dan penyembuhan penyakit secara tradisional, maupun segala macam ilmu gaib destruktif yang antara lain dipergunakan dalam ilmu sihir dan guna-guna, semuanya bisa dikembalikan kepada kedua keyakinan tersebut di atas. Ilmu gaib produktif dan protektif yang biasanya merupakan ilmu gaib putih atau baik, dilakukan oleh sikerei, sedang ilmu gaib destruktif yang biasanya merupakan ilmu gaib hitam atau jahat dilakukan oleh pananae. Seperti juga dalam banyak sistem kepercayaan dan religi lokal di dunia, kekuatan sakti yang tak berkemauan (bajou), dalam sistem kepercayaan orang Mentawai juga dianggap beradal dalam segala hal yang luar biasa dan dalam benda-benda keramat, serta dalam uma (sebagai rumah umum yang keramat). Benda-benda itu, yang seperti telah tersebut di atas adalah amat simagere, batu kerebau buluat, orat simagere, dan tudukut, serta dapat ditambah lagi dengan sejumlah daun-daunan dan akar-akar kering dari tumbuh-tumbuhan berkhasiat yang disebut bakkat katsaila, berfungsi sebagai jimat (tae) penolak bahaya gaib atau sebagai benda untuk mengundang ruh yang baik[2]. .
Mitos-mitos
1.
Siakau menjadi Biawak (asal mula manusia)
Pada mulanya bumi ini kosong. Yang ada hanya roh-roh jahat yang
mendiami dan menguasai kegelapan. satu sama lainnya saling berperang.
Bintang-bintang adalah senjata dan peluru yang dipakai untuk berperang.
Bintang-bintang itu dipetik dari langit dan kemudian dilemparkan ke lawan.
Mereka juga meraba bulan dan matahari yang kala itu sedang berperang pula.
Siakau, adalah roh jahat yang paling berkuasa, dari semua roh yang ada.
Roh lainnya memusuhi Siakau dan ingin mengusirnya. Siakau tidak tinggal diam
dan tak mau mengalah. Api dendam selalu membara di dadanya. Untuk kewaspadaan,
ia membuat senjata dari bambu. Tatkala ia memotong bambu, dari dalamnya keluar
empat manusia, mungkin dua pasang suami istri. Siakau mencoba menangkapnya,
tetapi tidak bisa karena larinya sangat kencang.
Satu pasang suami istri itu membuat pondok dan menggarap ladang.
Panen mereka tidak berhasil karena dimakan oleh tikus dan monyet, sehingga
mereka sangat kelaparan. Siakau merasa kasihan atas nasib malang mereka dan
berjanji akan membantu mereka. Siakau menawarkan diri menjaga ladang itu,
supaya bebas dari hama tikus dan monyet.
Untuk mengalahkan tikus dan monyet, Siakau berubah menjadi biawak.
Tetapi usaha dan daya upaya Siakau tidak mempan dan sia-sia belaka. Siakau yang
terlanjur menjadi biawak merasa sedih dan prihatin akan nasib kehidupan
manusia. Apa hendak dikata, dia tidak berdaya sama sekali, timbullah rasa
sesalnya.
Tumbuh rasa cemas di pikiran Siakau, kalau nantinya manusia
menjatuhkan tuduhan bahwa ialah yang merusak tanaman tersebut. Dugaan dan
tuduhan itu bisa saja terjadi karena biawak itu tidak cocok dengan roh Siakau.
Akhirnya, niat baik Siakau diganti dengan pengorbanan jiwanya
sendiri. Sepasang manusia tersebut membunuh dan memakan biawak jadi-jadiaan itu
dengan lahap. Namun, setelah memakan daging biawak itu, mereka menderita seolah
diracuni oleh suatu kekuatasan misterius sehingga akhirnya mati. Kejadian itu
dilihat oleh sepasang manusia lainnya. Timbul rasa takut dalam diri mereka, dan
akhirnya mereka lari menyelamatkan diri. Mereka inilah yang menjadi nenek
moyang orang Mentawai.
2.
Asal mula terbaginya pulau
Pagai (terpisahnya kepulauaan
pagai utara dan selatan)
Pada zaman dahulu kala, Pagai Utara
dan Pagai Selatan merupakan satu pulau. Pada pertengahan pulau itu berdiri
sebuah bukit kecil yang ditumbuhi rimba belantara yang angker dan sangat
mengerikan bagi penduduk setempat. Dalam hutan rimba yang lebat itu bersemayam
seekor burung elang hitam yang sangat galak lagi buas dan sangat menakutkan.
Pada mulanya penduduk sama sekali
tidak mengetahui bahwa hilang-lenyapnya bayi-bayi itu akibat keserakahan si
Manyang. Kaum ibu berkabung dan merasa sedih atas kehilangan anak-anaknya
secara tiba-tiba. Kejadian itu menjadi buah bibir dan merupakan teka-teki
misterius.
Kaum lelaki mulai mengadakan
musyawarah, mencari akal bagaimana mengatasi situasi amat gawat itu. Mereka
sepakat dan bertekat bulat mencari pencuri bayi-bayi itu. Berhari-hari mereka
masuk dan keluar hutan siap dengan busur dan anak panahnya. Akan tetapi usaha
mereka yang sudah berminggu-minggu itu tidak memperoleh hasil. Hati mereka
semakin kecut, cemas, kecewa dan nyaris putus asa. Tetapi pada suatu hari
mereka menemukan jalan setapak yang menghantarkan mereka ke puncak bukit kecil
itu. Di sana, mereka menemukan tulang belulang anak manusia yang berserakan di
bawah sebuah pohon raksasa. Tahulah mereka sekarang, bahwa di atas pohon besar
itu bersarang si Manyang yang telah memangsai anak-anak mereka selama ini.
Pohon itu harus ditebang, supaya
burung jahanam itu jangan lagi bersarang dan segera enyah dari Pagai. Usaha
penebangan mulai dilakukan. Waktu yang tepat harus di malam hari. Pada malam
pertama, hasil kerja mereka sangat mengecewakan. Pohon itu sangat keras dan
liat. Malam berikutnya, dilakukan lagi penebangan. Aneh sekali dan sangat
mengherankan, ternyata keesokan harinya bagian yang telah ditetak, kembali seperti
keadaan semula. Pohon raksasa itu utuh kembali seolah-olah punya kesaktian dan
kekebalan. Namun keadaan ini tidak melumpuhkan semangat mereka, bahkan membuat
hati mereka semakin kuat untuk menumbangkan pohon tersebut. Mereka telah
berketetapan hati untuk menumbangkannya dalam waktu satu malam saja. Oleh sebab
itu, kerja mereka harus lebih intensif dan berkesinambungan tanpa henti dan
mengenal lelah.
Setelah semalam suntuk bekerja
keras membanting tulang, berhasillah usaha mereka. Pagi harinya, ketika fajar
merekah, tumbanglah pohon raksasa itu dengan dahsyatnya. Pohon itu rebah
membelintang ke sebelah barat membagi Pulau Pagai menjadi dua bagian. Begitu
besar dan beratnya pohon itu, sehingga tanah yang ditimpanya terbelah dan air
lautpun naik mengenangi daratan.
Terjadilah sebuah selat yang
membagi dua Pulau Pagai, yaitu Pagai Utara dan Pagai Selatan. Bukit dimana
pohon raksasa itu tumbuh menjelma menjadi sebuah pulau kecil di depan selat di
timur. Bukit kecil itu dikenal dengan nama Bakat Minuang dan selat itu bernama
Selat Sikakap.
3.
Ular oyton dan si bungsu (asal mula perkawinan monogami
di mentawai)
Dahulu kala di sebuah dusun, tinggal satu keluarga kecil. Kedua
suami istri itu mempunyai tiga orang anak perempuan. keluarga itu memelihara
seekor ular python besar di dekat rumahnya, tempat mereka minta api. Tidak lama
kemudian orang tua mereka meninggal dunia, tinggal tiga orang anak gadis itu.
Pada suatu hari berkatalah anak yang sulung kepada adiknya:
"Sekarang aku akan menutup unggunan api. Kalau nanti apinya padam, akulah
sendiri yang akan pergi ke sarang ular python meminta api."
Lalu ditutupnya api itu, dan sewaktu ia bangun pagi, bara api
masih menyala dan mereka langsung memasak. Setiap hari mereka harus mencari
makanan karena tidak ada yang membantu. Ketika malam datang, giliran adik kedua
yang menjaga api. Dan dia melakukannya dengan baik dimana api tidak padam.
Malam berikutnya, giliran yang bungsu yang menjaga api. Kakaknya
bermaksud jahat padanya. Ketika orang lagi tidur, kakaknya yang sulung menyiram
api unggun tersebut sampai padam. Pagi harinya, si bungsu dimarahi sebab api
unggun padam dan langsung diperintahkan kepadanya untuk minta api kepada ular
python besar. Kalau tidak mau mereka akan membunuh si bungsu.
Dengan rasa takut akan dipatuk, si bungsu menuju sarang ular
tersebut dan berkata ingin meminta api. Ular python bersedia memberi dia api
dengan syarat si bungsu mau kawin dengannya. Syarat itu disanggupi oleh si
bungsu, dan diadakanlah punen untuk perayaan perkawinan si bungsu dengan ular
python.
Ular python itu sendiri merupakan jelmaan seorang pemuda tampan
yang selalu berubah menjadi manusia ketika istrinya pergi ke ladang, dan
menggoda istrinya tersebut. Istrinya sendiri tidak mengacuhkan godaan pemuda itu
dan diapun tidak tahu, bahwa pemuda itu adalah suaminya, si ular python.
Berdasarkan informasi dari penduduk, si Bungsu tahu bahwa
suaminyalah yang menjelma menjadi manusia dan menggoda ketika dia bekerja.
Suatu ketika, si Bungsu pura-pura pergi ke ladang, dan ketika suaminya berubah
menjadi manusia dan pergi ke ladang, si Bungsu masuk dan membakar kulit ular
tersebut. Akhirnya, si pemuda tidak bisa berubah lagi menjadi ular dan mereka
hidup sebagai sepasang suami istri yang berbahagia.
4.
Sitakki gagailau (asal
kerei)
Ibunya kesal melihat perangai
anaknya ini dan menegurnya. Namun, teguran ibunya tidak diperdulikan, bahkan
timbul marahnya, dan ia berniat minggat dari rumah orang tuanya. Dicarinya akal
bagaimana ia bisa keluar rumah.
Pada suatu hari ia pergi ke ladang
bersama dengan ibunya. Sengaja ditancapkan pisau belatinya di dekat ibunya yang
sedang bekerja. Tanpa sengaja pisau tersebut tergaet oleh ibunya dan patah.
Lalu ia menangis dan berontak kepada ibunya. Ibunya jadi marah, hanya karena
hal sepele saja ia jadi sakit hati. Sang pemuda berpikir, inilah saatnya untuk
melarikan diri dari rumah. Ayahnya membujuk, tapi ia berkeras hati hendak
pergi.
Pada suatu ketika ia pergi berburu
bersama dengan orang banyak. Waktu diajak pulang setelah selesai berburu, ia
tak mau. Semua orang heran dan mencoba mengajaknya pulang ke rumah. Namun ia
tetap menolaknya.
Kemudian ia memanjat pohon,
melompat dari dahan ke dahan persis seperti seekor bilou (siamang).
Lalu berkata kepada pemburu lainnya: :
"Hai, paman pulang sajalah! Nanti manakala paman sudah sampai di rumah, tabuhlah tuddukat (gendang panjang). Apabila paman mendengar teriakan saya dari kejauhan, paman akan mengerti bahwa saya tidak dapat lagi kembali menjadi manusia". Semua teman berburu kembali pulang dengan tanda-tanya dalam hati masing-masing.
"Hai, paman pulang sajalah! Nanti manakala paman sudah sampai di rumah, tabuhlah tuddukat (gendang panjang). Apabila paman mendengar teriakan saya dari kejauhan, paman akan mengerti bahwa saya tidak dapat lagi kembali menjadi manusia". Semua teman berburu kembali pulang dengan tanda-tanya dalam hati masing-masing.
Menetaplah ia di atas pohon bersama
dengan siamang lainnya, karena ia memang telah menjelma menjadi seekor siamang.
Kemudian datanglah penduduk langit
(Taikamanua) ke dekat siamang jadi-jadian itu. Orang langit ingin tahu
apa sebenarnya yang dikehendakinya. Siamang jadian itu berkata bahwa ia ingin
lebih gagah dan tampan dari semua manusia, tetapi ternyata ia menjadi siamang.
Ia diajak bersama-sama naik ke
langit. Setelah sampai di langit, Sitakkigagailau disihir
menjadi gagah dan tampan, serupa dengan penduduk langit. Lalu penduduk langit
berpesan kepadanya, nanti kalau sudah sampai di negerinya, jangan lupa
mengadakan punen, memberikan persembahan. Sitakkigagailau minta
supaya diberi kekuatan gaib untuk dapat membuat hal-hal ajaib di hadapan
penduduk dunia, sehingga menakjubkan mereka. Nanti manakala mereka melihat
keajaiban itu, tentu mereka akan memuji kekuasaan dari langit.
Alhasil, dengan kekuatan seperti
mengobati orang sakit dan kekuatan-kekuatan lainnya, ia diturunkan menjadi kerei.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar