A. Pendekatan Parafratis
Pendekatan parafratis adalah strategi pemahaman kandungan
makna dalam suatu cipta sastra dengan jalan mengungkapkaan kembali gagasan yang
disampaikan pengarang dengan menggunakan kata-kata maupun kalimat yang berbeda
dengan kata-kata dan kalimat yang digunakan pengarangnya. Tujuan akhir
pendekatan ini adalah untuk menyederhanakan pemakaian kata dan kalimat seorang
pengarang sehingga pembaca lebih mudah memahami kandungan makna yang terdapat
dalam suatu cipta sastra.
Prinsip
dasar dari penerapan pendekatan parafratis adalah sebagai berikut:
1. Gagasan yang sama dapat disampaikan
lewat bentuk yang berbeda;
2. simbol-simbol yang bersifat
konotatif dalam suatu cipta sastra dapat diganti dengan lambing atau bentuk
lain yang tidak mengandung ketaksaan makna;
3. kalimat-kalimat atau baris dalam
suatu cipta sastra yang mengalami pelesapan dapat dikembalikan lagi kepada
bentuk dasarnya;
4. pengubahan suatu cipta sastra baik
dalam hal kata maupun kalimat yang semula simbolis dan elipsis menjadi suatu
bentuk kebahasaan yang tidak lagi konotatif akan mempermudah upaya seseorang
untuk memahami kandungan makna dalam suatu bacaan;
5. pengungkapan kembali suatu gagasan
yang sama dengan menggunakan media atau bentuk yang tidak sama oleh seorang
pembaca akan mempertajam pemahaman gagasan yang diperoleh pembaca itu sendiri.
B. Pendekatan Emotif
Pendekatan emotif dalam mengapresiasi sastra adalah suatu
pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang mengajuk emosi atau
perasaan pembaca. Ajukan emosi itu dapat berhubungan dengan keindahan penyajian
bentuk maupun ajukan emosi yang berhubungan dengan isi atau gagasan yang lucu
dan menarik.
Prinsip dasar yang melatarbelakangi adanya pendekatan emotif
adalah bahwa rutinitas masyarakat yang padat mengakibatkan kejenuhan sehingga
memerlukan media untuk menghibur dirinya, di antaranya menikmati cipta sastra
itu sendiri. Oleh karena itu, diharapkan pembaca dapat menemukan unsur-unsur
keindahan maaupun kelucuan yang terdapat dalam suatu karya sastra.
Selain berhubungan dengan masalah keindahan, juga unsur gaya
bahasa dan pola persajakan juga mempengaruhi suasana hati pembaca. Unsur gaya
bahasa seperti metafora, simile maupun penataanse tting mampu menghasilkan
panorama yang menarik. Masalah pola persajakan juga dapat menghasilkan
penikmatan keindahan terhadap karya sastra karena dapat menghadirkan unsur
musikalitas yang merdu dan menarik. Penyajian keindahan dalam puisi, selain
lewat permainan bunyi sehingga dikenal adanya penyair yang auditif, dapat juga
disajikan secara visual, misalnya dengan membuat panorama yang menarik dan
indah sehingga juga dikenal adanya penyair yang visual.
C. Pendekatan Analitis
Pendekatan analitis merupakan suatu pendekatan yang berusaha
memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajikan
ide-idenya, sikap pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasannya, elemen
intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen intrinsik itu sehingga
mampu membangun adanya keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun
totalitas bentuk maupun totalitas maknanya.
Prinsip dasar yang melatarbelakangi munculnya pendekatan
analitis adalah sebagai berikut :
1. Cipta sastra itu dibentuk oleh
elemen-elemen tertentu,
2. setiap elemen dalam cipta sastra
memiliki fungsi tertentu dan senantiasa memiliki hubungan antara yang satu
dengan yang lainnya meskipun karakteristik berbeda,
3. dari adanya karakteristik setiap
elemen itu, maka antara elemenyang satu dengan elemen yang lain, pada awalnya
dapat dibahasa secara terpisah meskipun pada akhirnya setiap elemen itu harus
disikapi sebagai suatu kesatuan.
Kegiatan mengapresiasi sastra dengan menerapkan pendekatan
analitis dianggap sebagai suatu kerja yang bersifat saintifik karena dalam
menerapkan pendekatan ini, pembaca harus memahami terlebih dahulu landasan
teori tertentu, bersikap objektif dan menunjukkan hasil analisis yang tepat,
sistematis, dan diakui kebenarannya oleh umum. Namun, kegiatan analisis itu
tidak harus meliputi keseluruhan aspek yang terkandung dalam suatu cipta
sastra. Dalam hal ini, pembaca dapat membatasi diri pada analisis struktur,
diksi atau gaya bahasa, atau mungkin analisis kebahasaaan dalam linguistik.
D. Pendekatan Historis
Pendekatan historis merupakan suatu pendekatan yang
menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang, latar belakang peristiwa
kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya cipta sastra yang
dibaca, serta tentang bagaimana perkembangan kehidupan penciptaan maupun
kehidupan sastra itu sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman.
Prinsip dasar yang melatarbelakangi lahirnya pendekatan
adalah anggapan bahwa cipta sastra bagaimana pun juga merupakan bagian dari
zamannya. Selain itu, pemahaman terhadap biografi pengarang juga sangatpenting
dalam upaya memahami kandungan makna dalam suatu cipta sastra. Sebab itulah,
telaah makna suatu teks dalam pendekatan sosio-semantik sangat mengutamakan
konteks, baik konteks sosio-budaya, situasi atau zaman maupun konteks kehidupan
pengarangnya sendiri.
E. Pendekatan Sosiopsikologis
Pendekatan sosio-psikologis adalah suatu pendekatan yang
berusaha memahami latar belakang kehidupan sosiobudaya, kehidupan masyarakat,
maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap lingkungan kehidupannya
ataupun zamannya pada saat cipta sastra itu diwujudkan.
Dalam pelaksanaannya, pendekatan sosio-psikologis berusaha
memahami bagaimana kehidupan sosial masyarakat pada masa itu, bagaimana sikap
pengarang terhadap lingkungannya, serta bagaimana hubungan antara cipta sastra
itu dengan zamannya. Oleh karena itu, Sapardi Djokodamono mengungkapkan bahwa
karya sastra tidak dapat dipahami selengkap- lengkapnya apabila dipisahkan dari
lingkungan atau kebudayaan.
F. Pendekatan Didaktis
Pendekatan didaktis adalah suatu pendekatan yang berusaha
menemukan dan memahami gagasan, tanggapan maupun sikap pengarang terhadap
kehidupan,. Gagasan, tanggapan maupun sikap itu dalam hal ini akanmampu
terwujud dalam suatu pandangan etis, filosofis, maupun agamis sehingga akan
mengandung nilai-nilai yang mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca.
Dalam pelaksanaannya, pendekatan didaktis menuntut daya
kemampuan intelektual, kepekaan rasa, maupun sikap yang mapan dari pembacanya.
Bagi pembaca pada umumnya, penerapan pendekatan didaktis dalam tingkatan
pemilihan bahan yang sesuai dengan pengetahuan maupun tingkat kematangannya
akan terasa lebih mengasyikkan. Hal itu terjadi karena pembaca umumnya berusaha
mencari petunjuk dan keteladanan lewat teks yang dibaca. Penggunaan pendekatan
ini diawali dengaan upaya pemahaman satuan-satuan pokok pikiran yang terdapat
dalam suatu cipta sastra. Satuan pokok pikiran itu pada dasarnya disarikan dari
paparan gagasan pengarang, baik berupa tuturan ekspresif, komentar, dialog,
lakuan maupun deskripsi peristiwa dari pengarang atau penyairnya.
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin.
2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra..Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Dola, Abdullah. 2007. Apresiasi
Prosa Fiksi dan Drama. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.
Mahayana, Maman S. 2007. Apresiasi
Sastra Indonesia di Sekolah. Online (http://johnherf.wordpress.com). Diakses 23
Februari 2008.
Pradopo, Rachmat. 1995. Pengkajian
Puisi. Jakarta: Rineka Cipta.Sakdiyah, Mislinatul. Menggauli Puisi Lewat Lagu.
Online (http://cybersastra.net). Diakses 19 Januari 2007.
Tang,
Muhammad Rapi. 2007. Pengantar Teori Sastra Yang Relevan Makassar: PPs UNM
Teeuw,
A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Pengantar Ilmu Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.
Waluyo,
Herman. 1987. Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
Wellek,
Rene dan Warren, Austin. 1993. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar