Selasa, 11 November 2014

SOSIAL MEDIA DALAM PERSPEKTIF GENDER DAN SEKSUALITAS




            Di Era teknologi yang semakin berkembang pesat saat ini, sudah banyak sosial media yang menawarkan kemudahan untuk berkomunikasi, apalagi sekarang yang namanya fecebook, twitter, E-mail, youtube, dll. Kemudahan ini menyebabkan kontrofersi ada yang mengatakan kemudahan bersifat baik, tapi di sisi lain ada juga yang mengatakan itu bisa menyababkan hal-hal yang buruk,
            Berbicara tentang gender dan seks, dimana sudah dibahas dalam mata kuliah Agama dan Gender, gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki atau perempuan yang menimbulkan konstruk sosial-budaya. Sedangkan seks adalah pensifatan yang melekat pada laki-laki atau perempuan  yang berhubungan dengan masalah biologis dan sifatnya kodrati.
Pada makalah ini akan membahas sosial media  dalam perspektif gender? Sebagai mana kita ketahui bahwa media adalah alat, sarana, perantara, dan penghubung. Contohnya media internet . Pada dasarnya media mempunyai dua peran yaitu pertama,  memperlihatkan, memperluas atau tidak menyembunyikan konstruk sosial atau permasalahan yang didasari karena seks. Kedua apakah media malah menyembunyikan konstruk sosial atau permaslahan seks itu,dan sosial media menjadi media yang paling berpengaruh dimasyarakat. internet termasuk media masa yang memiliki peran cukup lebih condong kedalam proses pembentukan karakter dan moral sebuah bangsa, tidak terkecuali bangsa Indonesia.
            Sosial media yang makin hari semakin banyak penggunanya dan sat ini semakin marak kejadian kejahatan di dalam dunia internet,




Rumusan masalah                                   
1.      Pengertian sosial media , gender, dan seks?
2.      Penilaian gender dan seks dalam sosial media  ?
Tujuan
1.      Menegtahui pengertian sosial media, gender dan seks
2.      Mengetahui lebih lanjut tentang analisis gender dan seks dalam sosial
Pengertian sosial media dan Pertumbuhannya
Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia[1].
Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan media sosial dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Pengguna media sosial dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content lainnya.
Menurut Antony Mayfield dari iCrossing, media sosial adalah mengenai menjadi manusia biasa. Manusia biasa yang saling membagi ide, bekerjasama, dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berfikir, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan, dan membangun sebuah komunitas. Intinya, menggunakan media sosial menjadikan kita sebagai diri sendiri. Selain kecepatan informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik, menjadi diri sendiri dalam media sosial adalah alasan mengapa media sosial berkembang pesat. Tak terkecuali, keinginan untuk aktualisasi diri dan kebutuhan menciptakan personal branding.
Perkembangan dari media sosial ini sungguh pesat, ini bisa di lihat dari banyaknya jumlah anggota yang di miliki masing - masing situs jejaring sosial ini, berikut tabel jumlah anggota dari masing - masing situs.



No
Nama situs
Jumlah member
1
facebook
250.000.000
2
myspace
122.000.000
3
twitter
80.500.000
4
linkedin
50.000.000
5
ning
42.000.000

Kerangka sarang lebah mendefinisikan bagaimana media sosial layanan fokus pada beberapa atau semua tujuh blok bangunan fungsional (identitas, percakapan, berbagi, kehadiran, hubungan, reputasi, dan kelompok). Bangunan blok tersebut membantu memahami kebutuhan pertunangan dari audiens media sosial. Sebagai contoh, pengguna LinkedIn peduli kebanyakan tentang identitas, reputasi dan hubungan, sedangkan blok utama YouTube bangunan berbagi, percakapan, kelompok dan reputasi.
Banyak perusahaan membangun wadah sosial sendiri yang mencoba untuk menghubungkan blok bangunan tujuh fungsional sekitar merek mereka. . Ini adalah komunitas swasta yang melibatkan orang-orang di sekitar tema yang lebih sempit, seperti di sekitar panggilan tertentu, merek atau hobi, dari wadah media sosial seperti Facebook atau Google+,Sementara jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Jejaring sosial terbesar antara lain Facebook, Myspace, Plurk, dan Twitter. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpertisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.
Saat teknologi internet dan mobile phone makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses facebook atau twitter misalnya, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan sebuah mobile phone. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia. Karena kecepatannya media sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan berita-berita[2].
Teori Gender
Gender yaitu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang di konstruksi secara sosial maupun kultural.[3] Semua hal yang dapat dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki-laki, yang bisa berubah dari waktu kewaktu serta berbeda dari tempat ketempat lainnya, maupun berbeda dari satu kelas kekelas yang lain, itulah yang dikenal dengan konsep gender.[4]
Nazarudin Umar dalam bukunya Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, menyimpulkan bahwa gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laiki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial-budaya. Gender dalam arti ini mendefinisikan laki-laki dan perempuan dari sudut non-biologis.[5]
Gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-lakidan perempuan dari segi sosial-budaya. Mansouf Fakih dalam bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial, menerangkan bahwa terbentuknya perbedaan-perbedaan gender dikarenakan oleh banyak hal, diantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksi secara sosial-kultural melalui ajaran keagamaan maupu negara.[6]



A.    Teori Seksualitas
Seks adalah pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Secara permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan biologis atau sering dikatakan sebagai ketentuan tuhan atau kodrat.[7] Secara umum seks digunakan utuk mengidentifikasikan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologis.
Istilah seks (dalam kamus besar bahasa Indonesia juga berarti “jenis kelamin”) lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormondalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi dan karakteristik biologis lainnya.
Analisis
Sosial media dalam perspektif gender
Sosial media adalah salah satu instrumen utama dalam membentuk konstruksi gender pada masyarakat. Media yang memiliki karakteristik dengan jangkauannya yang luas, bisa menjadi alat yang efektif dalam menyebarluaskan konstruksi genderkepada masyarakat. Sebelum membahas lebih jauh mengenai prinsip dasar yang harus dimiliki pelaku media terhadappermasalahan perempuan, terlebih dulu harus diketahui pengertian gender dan perbedaan antara seks dan gender. Banyakyang keliru ketika mengartikan seks dan gender. Pengertian gender adalah pembagian peran serta tanggung jawab, baik lelakimaupun perempuan yang ditetapkan masyarakat maupun budaya. Misalnya, keyakinan bahwa lelaki itu kuat, kasar, danrasional, sedangkan perempuan lemah, lembut, dan emosional. Hal ini bukanlah ketentuan kodrat tuhan, melainkan hasilsosialisasi melalui sejarah yang panjang. Pembagian peran, sifat, maupun watak perempuan dan lelaki dapat dipertukarkan,berubah dari masa ke masa, dari tempat dan adat satu ke tempat dan adat yang lain, dan dari kelas kaya ke kelas miskin.gender memang bukan kodrat atau ketentuan tuhan, melainkan buatan manusia, buatan masyarakat atau konstruksi sosial.perbedaan gender sesungguhnya tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Namun,timbul persoalan bahwa perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan. Walaupun laki-laki tidak menutupkemungkinan akan menjadi korban ketidakadilan gender, tetapi perempuan masih tetap menduduki posisi tertinggi sebagaikorban ketidakadilan gender. Lebih lanjut, menurut mansour fakih, ketidakadilan gender termanifestasikan dalam berbagaibentuk ketidakadilan, di antaranya marjinalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi, atau anggapan tidak pentingdalam keputusan politik, pembentukan stereotipe,atau melalui pelabelan negatif, kekerasan, beban kerja lebih panjang, sertasosialisasi ideologi peran gender. Ketidakadilan gender inilah yang digugat ideologi feminis, yang berangkat dari suatukesadaran akan suatu penindasan dan pemeresan terhadap wanita dalam masyarakat, baik itu di tempat kerja ataupun dalamkonteks masyarakat secara makro, serta tindakan sadar, baik oleh perempuan atau pun laki-laki dalam mengubah keadaantersebut.
Pentingnya jurnalis dan institusi media mempunyai sensitif yang tinggi dalam permasalahan perempuan, dan untukmenghasilkan jurnalisme yang berperspektif gender, sepertinya profesional media massa harus bekerja keras. Setidaknya, adabeberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan para pelaku media massa, yaitu: pertama, kemampuan profesional, etika danperspektif pelaku media massa terhadap permasalahan gender masih rendah. Akibatnya, hasil penyiaran belum sepenuhnyamampu mengangkat permasalahan perempuan pada arus utama (mainstream).

Sosial Media Dalam Perspektif Seksualitas
Media sosial yang sekarang ini semakin berkembang pesat tidak membatasi umur semua orang bisa mengukan sosial media tersebut.kenudahan untuk mengakses dan mempunyai akun-akun media sosial menjadikan kejahatan di dunia maya semakin marak terjadi di karnakan keamanan yang tidak ada di dalm dunia internet membuat orang –orang yang ingin membuat kejahatan tinggal melakukannya.
Contohnya di youtube  vidiovido mesum gampang di upluad ke sosial media tersebut mudahnya mempunyai akun tersebut membuat uploder nakal mudah-mudah saja untuk mengupload vidio mesum nya.
Kami  di sini juga akan menanyakan kapada pennguna sosial media apakah penilayan mereka terhadap sosial media.
Sosial media dalam erspektif seksualitas menurut samsudin yang juga pengguna sosial media menurut nya media sosial itu bisa di anggap baik bisa juga di anggap buruk tergantung pemakainya, dia beranggapan bahwa sosial media adalah tempat untuk memprmudah hubungan dan lain-lain .
Menurut dia sosial media bukan hanya sebagai tempat ber atua tapi juga sebagai tempat curhat menyatakan perasaan yang sedang galau, sedih, bahagia, marah, apalagi ppas jauh sama si dia Ujar nya . meskipun dia sering melihat pengguna sosial media untuk melakukan hal-hal yang tidak baik seperti mengupload vidio porno (BF) dan gambar orang yang seksi-seksi[8].


















Kesimpulan


Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia
Bahwasanya media sosial yang menjadi masalah disini apabila penggunanya tidakk bertanggung jawab dalam melakukan sesuatu pada media sosial tersebut , media sosial tidak tidak selalu melahirkan konstruk tergantung pemakainya.


















DAFTAR PUSTAKA
·         Sunarto, Televisi Kekerasan dan Perempuan, Jakarta, kompas, 2009
·         Solehati. Siti, Wanita dan Media Masa, Teras. 2007
·         Fakih. Mansour, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2012
·         Widytama Rendra, Bias Gender dalam iklan televisi, Yokyakarta, Media Pressindo, 2006



[1]  Penertian social media (07-januari-2014); bisa di akses melalui  http://id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial
[2] Pertumbuhan social media (07-januari-2014) available from ;
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&ved=0CD8QFjAD&url=http%3A%2F%2Fejournal.stainpurwokerto.ac.id%2Findex.php%2Fkomunika%2Farticle%2Fdownload%2F27%2F27&ei=LfHLUturG4jSrQeN8YDYDA&usg=AFQjCNFbv3seeLs23h2pQui1qABKj6QhTQ&sig2=r5iPmbCzzSpAH9nK7ovfKg&bvm=bv.58187178,d.bmk
[3] Mansour Fakih, Analisis Gender dan Trasformasi Sosial, hlm 8
[4] Mansour Fakih, Analisis Gender dan Trasformasi Sosial, hlm 9
[5] Nasarudin Umar, Argumen kesetaraan gender perspektif al-gur’an, hlm 31
[6] Ibid hlm 9
[7]Mansour Fakih, Analisis Gender dan Trasformasi Sosial, hlm 8
[8] Sam sudin mahasiswa UIN sunan kalijga 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar