Di Era teknologi yang semakin berkembang
pesat saat ini, sudah banyak sosial media yang menawarkan kemudahan untuk
berkomunikasi, apalagi sekarang yang namanya fecebook, twitter, E-mail,
youtube, dll. Kemudahan ini menyebabkan kontrofersi ada yang mengatakan
kemudahan bersifat baik, tapi di sisi lain ada juga yang mengatakan itu bisa
menyababkan hal-hal yang buruk,
Berbicara
tentang gender dan seks, dimana sudah dibahas dalam mata kuliah Agama dan
Gender, gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki atau perempuan yang
menimbulkan konstruk sosial-budaya. Sedangkan seks adalah pensifatan yang
melekat pada laki-laki atau perempuan
yang berhubungan dengan masalah biologis dan sifatnya kodrati.
Pada
makalah ini akan membahas sosial media
dalam perspektif gender? Sebagai mana kita ketahui bahwa media adalah
alat, sarana, perantara, dan penghubung. Contohnya media internet . Pada
dasarnya media mempunyai dua peran yaitu pertama, memperlihatkan, memperluas atau tidak
menyembunyikan konstruk sosial atau permasalahan yang didasari karena seks.
Kedua apakah media malah menyembunyikan konstruk sosial atau permaslahan seks
itu,dan sosial media menjadi media yang paling berpengaruh dimasyarakat. internet
termasuk media masa yang memiliki peran cukup lebih condong kedalam proses pembentukan
karakter dan moral sebuah bangsa, tidak terkecuali bangsa Indonesia.
Sosial
media yang makin hari semakin banyak penggunanya dan sat ini semakin marak
kejadian kejahatan di dalam dunia internet,
Rumusan masalah
1. Pengertian
sosial media , gender, dan seks?
2. Penilaian
gender dan seks dalam sosial media ?
Tujuan
1. Menegtahui
pengertian sosial media, gender dan seks
2. Mengetahui
lebih lanjut tentang analisis gender dan
seks dalam sosial
Pengertian sosial media dan Pertumbuhannya
Media sosial adalah sebuah media online, dengan para
penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi
meliputi blog,
jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.
Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum
digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia[1].
Pesatnya perkembangan media sosial
kini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk
memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan
modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media. Seorang
pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan media sosial dengan jaringan
internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat
mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Pengguna media sosial dengan bebas
bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis,
dan berbagai model content
lainnya.
Menurut Antony Mayfield dari iCrossing, media
sosial adalah mengenai menjadi manusia biasa. Manusia biasa yang
saling membagi ide,
bekerjasama, dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berfikir, berdebat,
menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan, dan membangun
sebuah komunitas. Intinya,
menggunakan media sosial menjadikan kita sebagai diri sendiri. Selain kecepatan
informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik, menjadi diri sendiri dalam
media sosial adalah alasan mengapa media sosial berkembang pesat. Tak
terkecuali, keinginan untuk aktualisasi diri dan
kebutuhan menciptakan personal
branding.
Perkembangan dari media sosial ini
sungguh pesat, ini bisa di lihat dari banyaknya jumlah anggota yang di miliki
masing - masing situs jejaring sosial ini, berikut tabel jumlah anggota dari masing -
masing situs.
No
|
Nama situs
|
Jumlah member
|
1
|
facebook
|
250.000.000
|
2
|
myspace
|
122.000.000
|
3
|
twitter
|
80.500.000
|
4
|
linkedin
|
50.000.000
|
5
|
ning
|
42.000.000
|
Kerangka sarang
lebah mendefinisikan bagaimana media sosial layanan fokus pada beberapa atau
semua tujuh blok bangunan fungsional (identitas, percakapan, berbagi,
kehadiran, hubungan, reputasi, dan kelompok). Bangunan blok tersebut membantu
memahami kebutuhan pertunangan dari audiens media sosial. Sebagai contoh,
pengguna LinkedIn peduli kebanyakan tentang identitas, reputasi dan hubungan,
sedangkan blok utama YouTube bangunan berbagi, percakapan, kelompok dan
reputasi.
Banyak
perusahaan membangun wadah sosial sendiri yang mencoba untuk menghubungkan blok
bangunan tujuh fungsional sekitar merek mereka. . Ini adalah komunitas swasta
yang melibatkan orang-orang di sekitar tema yang lebih sempit, seperti di
sekitar panggilan tertentu, merek atau hobi, dari wadah media sosial seperti Facebook
atau Google+,Sementara
jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page
pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan
berkomunikasi. Jejaring sosial terbesar antara lain Facebook,
Myspace,
Plurk,
dan Twitter.
Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka media
sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik
untuk berpertisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi
dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.
Saat teknologi
internet
dan mobile phone makin maju
maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses facebook
atau twitter misalnya, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja hanya dengan
menggunakan sebuah mobile phone. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media
sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi
tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia. Karena
kecepatannya media sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam
menyebarkan berita-berita[2].
Teori Gender
Gender
yaitu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang di
konstruksi secara sosial maupun kultural.[3]
Semua hal yang dapat dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki-laki, yang
bisa berubah dari waktu kewaktu serta berbeda dari tempat ketempat lainnya,
maupun berbeda dari satu kelas kekelas yang lain, itulah yang dikenal dengan
konsep gender.[4]
Nazarudin
Umar dalam bukunya Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, menyimpulkan
bahwa gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi
perbedaan laiki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial-budaya. Gender
dalam arti ini mendefinisikan laki-laki dan perempuan dari sudut non-biologis.[5]
Gender
secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-lakidan perempuan
dari segi sosial-budaya. Mansouf Fakih dalam bukunya Analisis Gender dan
Transformasi Sosial, menerangkan bahwa terbentuknya perbedaan-perbedaan gender
dikarenakan oleh banyak hal, diantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat,
bahkan dikonstruksi secara sosial-kultural melalui ajaran keagamaan maupu
negara.[6]
A.
Teori
Seksualitas
Seks
adalah pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan
secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Secara permanen tidak
berubah dan merupakan ketentuan biologis atau sering dikatakan sebagai
ketentuan tuhan atau kodrat.[7]
Secara umum seks digunakan utuk mengidentifikasikan laki-laki dan perempuan
dari segi anatomi biologis.
Istilah
seks (dalam kamus besar bahasa Indonesia juga berarti “jenis kelamin”) lebih
banyak berkonsentrasi kepada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan
komposisi kimia dan hormondalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi dan
karakteristik biologis lainnya.
Analisis
Sosial media
dalam perspektif gender
Sosial media adalah salah satu instrumen utama dalam
membentuk konstruksi gender pada masyarakat. Media yang memiliki karakteristik
dengan jangkauannya yang luas, bisa menjadi alat yang efektif dalam
menyebarluaskan konstruksi genderkepada masyarakat. Sebelum membahas lebih jauh
mengenai prinsip dasar yang harus dimiliki pelaku media terhadappermasalahan
perempuan, terlebih dulu harus diketahui pengertian gender dan perbedaan antara
seks dan gender. Banyakyang keliru ketika mengartikan seks dan gender.
Pengertian gender adalah pembagian peran serta tanggung jawab, baik
lelakimaupun perempuan yang ditetapkan masyarakat maupun budaya. Misalnya,
keyakinan bahwa lelaki itu kuat, kasar, danrasional, sedangkan perempuan lemah,
lembut, dan emosional. Hal ini bukanlah ketentuan kodrat tuhan, melainkan hasilsosialisasi
melalui sejarah yang panjang. Pembagian peran, sifat, maupun watak perempuan
dan lelaki dapat dipertukarkan,berubah dari masa ke masa, dari tempat dan adat
satu ke tempat dan adat yang lain, dan dari kelas kaya ke kelas miskin.gender
memang bukan kodrat atau ketentuan tuhan, melainkan buatan manusia, buatan
masyarakat atau konstruksi sosial.perbedaan gender sesungguhnya tidak menjadi
masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Namun,timbul persoalan
bahwa perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan. Walaupun
laki-laki tidak menutupkemungkinan akan menjadi korban ketidakadilan gender,
tetapi perempuan masih tetap menduduki posisi tertinggi sebagaikorban
ketidakadilan gender. Lebih lanjut, menurut mansour fakih, ketidakadilan gender
termanifestasikan dalam berbagaibentuk ketidakadilan, di antaranya
marjinalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi, atau anggapan tidak
pentingdalam keputusan politik, pembentukan stereotipe,atau melalui pelabelan
negatif, kekerasan, beban kerja lebih panjang, sertasosialisasi ideologi peran
gender. Ketidakadilan gender inilah yang digugat ideologi feminis, yang
berangkat dari suatukesadaran akan suatu penindasan dan pemeresan terhadap
wanita dalam masyarakat, baik itu di tempat kerja ataupun dalamkonteks
masyarakat secara makro, serta tindakan sadar, baik oleh perempuan atau pun
laki-laki dalam mengubah keadaantersebut.
Pentingnya
jurnalis dan institusi media mempunyai sensitif yang tinggi dalam permasalahan
perempuan, dan untukmenghasilkan jurnalisme yang berperspektif gender,
sepertinya profesional media massa harus bekerja keras. Setidaknya, adabeberapa
prinsip dasar yang perlu diperhatikan para pelaku media massa, yaitu: pertama,
kemampuan profesional, etika danperspektif pelaku media massa terhadap
permasalahan gender masih rendah. Akibatnya, hasil penyiaran belum
sepenuhnyamampu mengangkat permasalahan perempuan pada arus utama (mainstream).
Sosial Media Dalam
Perspektif Seksualitas
Media
sosial yang sekarang ini semakin berkembang pesat tidak membatasi umur semua
orang bisa mengukan sosial media tersebut.kenudahan untuk mengakses dan
mempunyai akun-akun media sosial menjadikan kejahatan di dunia maya semakin
marak terjadi di karnakan keamanan yang tidak ada di dalm dunia internet
membuat orang –orang yang ingin membuat kejahatan tinggal melakukannya.
Contohnya
di youtube vidiovido mesum gampang di
upluad ke sosial media tersebut mudahnya mempunyai akun tersebut membuat
uploder nakal mudah-mudah saja untuk mengupload vidio mesum nya.
Kami
di sini juga akan menanyakan kapada
pennguna sosial media apakah penilayan mereka terhadap sosial media.
Sosial
media dalam erspektif seksualitas menurut samsudin yang juga pengguna sosial
media menurut nya media sosial itu bisa di anggap baik bisa juga di anggap
buruk tergantung pemakainya, dia beranggapan bahwa sosial media adalah tempat
untuk memprmudah hubungan dan lain-lain .
Menurut
dia sosial media bukan hanya sebagai tempat ber atua tapi juga sebagai tempat
curhat menyatakan perasaan yang sedang galau, sedih, bahagia, marah, apalagi
ppas jauh sama si dia Ujar nya . meskipun dia sering melihat pengguna sosial
media untuk melakukan hal-hal yang tidak baik seperti mengupload vidio porno
(BF) dan gambar orang yang seksi-seksi[8].
Kesimpulan
Media sosial adalah sebuah media online, dengan para
penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi
meliputi blog,
jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.
Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum
digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia
Bahwasanya media sosial
yang menjadi masalah disini apabila penggunanya tidakk bertanggung jawab dalam
melakukan sesuatu pada media sosial tersebut , media sosial tidak tidak selalu
melahirkan konstruk tergantung pemakainya.
DAFTAR PUSTAKA
·
Sunarto, Televisi Kekerasan dan Perempuan,
Jakarta, kompas, 2009
·
Solehati. Siti, Wanita dan Media Masa, Teras.
2007
·
Fakih. Mansour, Analisis Gender dan Transformasi
Sosial, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2012
·
Widytama Rendra, Bias Gender dalam iklan
televisi, Yokyakarta, Media Pressindo, 2006
[1] Penertian social media (07-januari-2014); bisa
di akses melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial
[2] Pertumbuhan social media
(07-januari-2014) available from ;
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&ved=0CD8QFjAD&url=http%3A%2F%2Fejournal.stainpurwokerto.ac.id%2Findex.php%2Fkomunika%2Farticle%2Fdownload%2F27%2F27&ei=LfHLUturG4jSrQeN8YDYDA&usg=AFQjCNFbv3seeLs23h2pQui1qABKj6QhTQ&sig2=r5iPmbCzzSpAH9nK7ovfKg&bvm=bv.58187178,d.bmk
[3] Mansour
Fakih, Analisis Gender dan Trasformasi
Sosial, hlm 8
[4] Mansour
Fakih, Analisis Gender dan Trasformasi
Sosial, hlm 9
[5]
Nasarudin Umar, Argumen kesetaraan gender
perspektif al-gur’an, hlm 31
[6] Ibid hlm
9
[7]Mansour
Fakih, Analisis Gender dan Trasformasi
Sosial, hlm 8
[8]
Sam sudin mahasiswa UIN sunan kalijga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar