Keyakinan
kepada Tuhan merupakan pondasi utama dan asas terpenting bagi seluruh agama.
Asas inilah yang melandasi segala pikiran dan perilaku manusia yang beragama.
Ada hubungan yang sangat erat antara kesempurnaan perbuatan insan dan
kepercayaan kepada Tuhan. Semakin tinggi kepercayaannya kepada Tuhan maka
semakin intens pula hubungannya kepada-Nya, dan ini berkonsekuensi pada semakin
sempurna pengamalannya atas ajaran-ajaran agama.
Pengetahuan
yang mendalam akan eksistensi Tuhan akan meniscayakan pengetahuan sempurna akan
sifat-sifat-Nya. Salah satu sifat Tuhan adalah Yang Maha Mengetahui dan Yang
Maha Bijaksana. Manusia yang yakin akan wujud Tuhan niscaya mengetahui
bahwa yang paling mengetahui akan hakikat dirinya, sifat-sifatnya, dan
kebutuhan substansialnya adalah Sang Penciptanya.
Kepercayaan
kepada Tuhan merupakan inti dan substansi agama, maka sangatlah urgen membangun
keyakinan kita itu di atas pondasi dan argumen yang sangat kokoh dan kuat. Karena
semua manusia memiliki dua fakultas pencerapan, akal dan hati, maka argumen pun
harus didasarkan pada dua indera itu, yakni argumentasi akal (filsafat) dan
pemahaman intuitif (irfan). Dua argumen inilah yang merupakan pijakan kokoh
bagi bangunan keyakinan kepada Tuhan.
Kesadaran
rasional dan intuitif merupakan kesadaran tertinggi bagi manusia[1] yang sekaligus merupakan tujuan penciptaan manusia. Manusia
yang paling berakal adalah manusia yang paling yakin akan keberadaan Tuhan dan
menganut agama sebagai satu-satunya jalan menuju kepada-Nya.
Kokohnya
bangunan keyakinan itu akan sangat berpengaruh kepada aspirasi kita kepada
agama yang merupakan pedoman hakiki bagi manusia untuk meraih kesempurnaan dan
penghambaan kepada-Nya.
Artikel
ini akan mencoba mengkaji sejauh mana penegalaman keagamaan bisa menjadi
pondasi dan argumen yang kuat untuk menegaskan eksistensi Tuhan.
Kejelasan
Wujud Tuhan
Sebagian
filosof dan semua urafa menyatakan bahwa wujud Tuhan adalah sesuatu yang
jelas, aksioma, gamblang, dan badihi[2],
serta bahkan lebih terang dari segala sesuatu yang lain. Karena itu, keberadaan
Tuhan sama sekali tidak memerlukan dalil dan argumen. Dia adalah dalil atas
segala sesuatu dan Dia mendahului segala sesuatu. Dia ada sebelum ada segala
sesuatu. Dialah yang mengadakan segala sesutu. Segala sesuatu bergantung mutlak
kepada-Nya. Ketiadaan selain-Nya tidak meniscayakan ketiadaan-Nya. Tetapi
ketiadaan-Nya adalah meniscayakan ketiadaan segala sesuatu. Dialah yang
menjelaskan segala sesuatu. Bukan segala sesuatu yang menerangkan Dia. Segala
sesuatu dikenal karena-Nya. Bukan karena selain-Nya Dia diketahui.
Namun,
sebagian filosof dan seluruh teolog (ahli kalam) menyatakan bahwa wujud
Tuhan membutuhkan argumen. Mereka kemudian membagi argumen menjadi dua bagian:
Sebagian
lagi membagi metode pembuktian Tuhan kedalam tiga bagian:
Para
ilmuwan dewasa ini menawarkan beragam cara untuk membuktikan keberadaan Tuhan.
Misalnya argumen mukjizat (supra-natural argument), argumen akhlak (moral
argument), dan argumen pengalaman keagamaan (religious experience
argument).
Pada
kesempatan ini, kami akan mengkaji argumen pengalaman keagamaan sebagai tawaran
baru dalam metode pembuktian wujud Tuhan.
Konsep
tentang pengalaman keagamaan ini lahir di akhir abad 18 dan digagas oleh
seorang filosof Jerman bernama Schlieirmacher (1768-1834). Lahirnya gagasan ini
dilatari oleh dua hal:
- Humanisme;
- Rasionalisme.
Rasionalitas
Agama
Rasionalisme
ekstrim ditolak oleh banyak ilmuwan pasca Descartes, terutama David Hume yang
menolak argumen-argumen filosofis tentang pembuktian wujud Tuhan. Kant juga
beranggapan bahwa agama tidak sesuai dengan rasionalitas. Menurutnya, segala
prinsip-prinsip agama tidak bisa ditetapkan dan didekati lewat akal teoritis.
Kant lebih menekankan agama didekati lewat pendekatan moral dan mengusulkan
penetapan wujud Tuhan lewat metode praktis akhlak (baca; akal praktis), bukan
dengan asumsi rasionalitas. Lebih jauh dia menyatakan bahwa hakikat agama
adalah akhlak itu sendiri.
Keringnya
rasionalitas ekstrim, menyebabkan lahirnya filsafat Romantisme yang
mengedepankan perasaan, emosi dan cinta. Pada kondisi ini Schlieirmacher dari
satu sisi mendukung rasionalisme ekstrim, dan dari sisi lain mengecam
pendekatan akhlak dalam pembuktian realitas Tuhan. Dia berkata bahwa agama
mendapatkan tempatnya lewat ketulusan, emosi dan cinta. Hakikat agama adalah
perasaan tulus, ikhlas, emosi dan cinta yang tak terbatas, serta kebergantungan
mutlak lewat intensitas pengamalan-pengamalan keagamaan. Jadi, agama dalam
definisi ini menjadi sangat personal dan relative. Agama tidak ikut campur
dalam masalah-masalah sosial, budaya dan politik. Agama menjadi sangat
marginal.
Definisi
Pengalaman Keagamaan
Pengalaman
keagamaan didefinisiskan sebagai penyaksian Tuhan atau perkara-perkara gaib
lainnya. Jika penyaksian itu berhubungan dengan hal-hal yang bersifat inderawi,
maka hal tersebut disebut dengan pengalaman inderawi. Tetapi jika penyaksian
tersebut berhubungan dengan Tuhan atau hal-hal yang berasal dari-Nya, maka
disebut pengalaman keagamaan[8]. Dalam pengalaman keagamaan, Tuhan memanifestasikan
diri-Nya sendiri dalam wujud para pesuluk (orang yang meniti jalan
ruhani). Terkadang pengalaman keagamaan juga meliputi terkabulnya doa dan
penyembuhan penyakit. Tetapi dalam kerangka pembahasan filosofis, pengalaman
keagamaan dibatasi oleh pengalaman-pengalaman yang mengandung pengetahuan
tentang Tuhan.
Rudolf Otto dan Schleiermacher beranggapan bahwa pengalaman
keagamaan adalah inti dan substansi agama, pemikiran agama dan akhlak lebih
bersifat aksiden. Dalam pandangan Otto, jika agama dipahami dan diyakini
berdasarkan pengenalan rasionalitas atas wujud dan sifat-sifat Tuhan, maka akan
terdapat kesalahan dalam pemahaman agama.[9]
Pengalaman
keagamaan adalah substansi agama dengan makna bahwa hakikat agama adalah
perasaan khas yang lahir ketika berhadapan dengan hakikat tak terbatas. Hal-hal
lain, seperti pemikiran agama, amal perbuatan dan akhlak tidak termasuk dalam
hakikat dan inti agama. Oleh karena itu, jika keadaan perasaan tersebut hadir
pada diri seseorang, maka dia disebut memiliki agama. Tetapi jika sebaliknya,
maka dia tidak dikategorikan sebagai orang yang beragama. Apabila perasaan
tersebut semakin sempurna, maka agama pun semakin sempurna. Agama dan perasaan
berbanding lurus.
Pengalaman
keagamaan adalah inti dan substansi agama dengan tafsiran bahwa ia merupakan
tujuan dan maksud hakiki agama. Ibn ‘Arabi menerima pengalaman keagamaan
sebagai substansi agama dalam pengertian tersebut. Menurut dia, syariat adalah
jalan yang mengantarkan pesuluk mencapai penyaksian (syuhudi) dan
penyatuan dengan nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Tingkatan inilah yang dimaksud
tujuan dan kesempurnaan agama. Jadi, kesempurnaan agama seseorang bergantung
pada kemanunggalannya dengan nama dan sifat Tuhan. Semakin banyak dia menyerap
nama dan sifat Tuhan, semakin sempurna agamanya.
Bentuk-bentuk
Pengalaman Keagamaan
1.
Pengalaman interpretatif
Yang
dimaksud dengan pengalaman interpretative (interpretative experiences)
adalah warna pengalaman agama ini bukan disebabkan oleh kekhususan-kekhususan
pengalaman itu sendiri, tetapi ditentukan oleh penafsirannya atas agama.
Jadi,
pelaku yang meraih pengalaman keagamaan, memandang pengalamannya sendiri
berdasarkan suatu penafsirannya atas agama. Seperti seorang muslim yang
memandang kematian anaknya sebagai balasan atas dosanya sendiri, atau seorang
penganut Kristen menafsirkan kematian anaknya sebagai ikut serta dalam
penderitaan Isa As. Jadi, mereka bersabar dalam musibah tersebut dan
menghasilkan ekspresi kejiwaan dalam bentuk kesedihan, kenikmatan atau
kebahagiaan.
Poin
penting dalam masalah ini adalah dengan bantuan penafsiran, maka semua hal yang
terjadi dalam kehidupan dapat diwarnai dengan warna keagamaan, lantas diamalkan
dan dihayati. Sisi epistemologi dalam pengalaman ini bukanlah hal yang
dipentingkan.[10]
2. Pengalaman inderawi
Pengalaman
inderawi (sensory experience) adalah pengalaman yang bersifat
penginderaan yang dipengaruhi oleh lima panca indera. Penglihatan-penglihatan
yang bersifat keagamaan, perasaan menderita ketika melakukan pengamalan
keagamaan, melihat malaikat, mendengar wahyu dan percakapan Musa as dengan
Tuhan, kesemuanya itu dikategorikan dalam pengalaman inderawi.[11]
3. Pengalaman wahyu
Pengalaman
ini meliputi wahyu, ilham dan bashirah yang seketika. Pengalaman wahyu (revelatory
experience) yang bersifat seketika, tanpa penungguan sebelumnya, hadir
dalam diri pesuluk. Dan warna keagamaan pengalaman ini berkaitan dengan isi dan
makna dari wahyu tersebut. Menurut Davis, pengalaman ini memiliki lima
kriteria:
- Bersifat tiba-tiba dan waktunya yang singkat;
- Meraih pengetahuan baru tanpa tafakkur dan argument;
- Berpengaruhnya faktor eksternal;
- Keyakinan akan kebenaran yang diperoleh;
- Tidak dapat dijelaskan dan digambarkan.[12]
4.
Pengalaman pembaharuan
Pengalaman
ini merupakan bentuk pengalaman keagamaan yang paling umum. Pengalaman
pembaharuan (regenerative experiences) ini adalah pengalaman yang
menjadikan keimanan pelaku semakin bertambah sempurna. Pengalaman ini merubah
secara drastis keadaan jiwa dan akhlak pelaku. Seseorang akan merasa bahwa
Tuhan sedang mengarahkan dirinya kepada hakikat kebenaran.[13]
5. Pengalaman mistik
Pengalaman
mistik (mystical experience) merupakan salah satu bentuk
pengalaman keagamaan yang paling penting. Rudolf Otto dalam karyanya[14], membagi pengalaman mistik menjadi dua bagian:
a.
Pengalaman yang berhubungan dengan sisi internal jiwa
Pada
dimensi ini pesuluk memperhatikan ke dalam diri dan tenggelam dalam lautan
kejiwaannya, serta berupaya menyelam ke dasar jiwa untuk meraih kekuatan suci.
Seorang pesuluk, berupaya jauh dari pengaruh indera lahiriah dan lebih
memperhatikan sisi-sisi batin. Hal ini dicapai dengan pemusatan konsentrasi
pada satu perkara. Ketika dia berhasil meraih kesempurnaan konsentrasi, tahap
selanjutnya adalah menghilangkan semua rasa dan menghapus semua gambaran
inderawi dan gambaran pikiran hingga mencapai “kekosongan” dan “ketiadaan” yang
sempurna. Menurut para arif, pesuluk yang sampai pada tingkatan ini, akan
meraih pengetahuan sejati dan suci. Dapat dikatakan bahwa arif dalam
pengalaman ini, lepas dari perasaan ego dan menyatu dengan ego suci.
b.
Pengalaman yang berkaitan dengan penyaksian kesatuan wujud
Sisi
ini memiliki tiga tingkatan:
Pertama,
arif mengetahui adanya kesatuan alam. Fenomena-fenomena alam menjadi satu
kesatuan dengan diri arif.
Kedua,
bukan hanya alam tapi juga ada kekuatan supra natural yang mempengaruhinya.
Arif melihat kesatuan lewat kejamakan alam.
Ketiga,
alam menjadi “tiada” dalam pandangan arif, dia memandang kesatuan
tanpa kejamakan alam. Yang ada hanyalah kesatuan itu sendiri.[15]
Titik
Temu Pengalaman Keagamaan
Dengan
memperhatikan bentuk-bentuk pengalaman keagamaan di atas akan muncul pertanyaan
bahwa apakah bentuk-bentuk tersebut memiliki titik kesamaan?
Masalah
ini menjadi sangat penting ketika pengalaman keagamaan itu diartikan sebagai:
Pertama: Hakikat dan prinsip yang paten dalam agama yang mendasari semua
perkara yang bersifat keyakinan, amal perbuatan dan akhlak Kedua: Cara meraih
pengetahuan dan mengenal hakikat.
Pengalaman-pengalaman
keagamaan tersebut akan bermamfaat jika menghasilkan pangetahuan yang sama,
walaupun dengan derajatnya yang berbeda. Apabila hal ini tidak terjadi, maka
setiap pengetahuan yang dihasilkan dari satu bentuk pengalaman keagamaan -bisa
jadi- akan bertentangan satu dengan yang lainnya, dan berujung pada
ketidakabsahannya sebagai parameter dalam kebenaran pengetahuan.
- Tidak bisa disifatkan, dijelaskan dan digambarkan;
- Memberikan pengetahuan;
- Cepat berlangsung;
- Bersifat reaktif.[17]
Kriteria
Pengalaman Keagamaan
Pesuluk
dalam pengalaman keagamaan, berhubungan langsung (hudhuri) atau dengan
perantara (hushuli) dengan hakikat dan wujud tak terbatas. Tuhan
memanifestasikan diri-Nya dalam wujud pesuluk hingga dia meraih pengetahuan
sejati.
1.
Pengalaman keagamaan para nabi, jika dalam bentuk ilmu hudhuri, sama
dengan pengalaman mistik; Pesuluk membutuhkan manifestasi Tuhan dalam membangun
hubungan hudhurinya dengan Tuhan dan juga dalam menafsirkan pengalaman hudhuri-nya.
Oleh karena itu, hakikat-hakikat agama yang lahir dalam bentuk ilmu hushuli,
juga disebut wahyu yang datangnya dari Tuhan yang terpancar lewat wujud
pesuluk.
2.
Kriteria-kriteria pribadi dan faktor-faktor alami serta kondisi kejiwaan
pesuluk, bukanlah faktor yang berpengaruh atas hadirnya hubungan hushuli
atau hudhuri dengan Tuhan. Sebagaimana pengalaman keagamaan para nabi
yang terjaga dari ilham syaitan dan hawa nafsu.
3.
Pesuluk, dalam pengalaman keagamaan, mengalami penyingkapan dan penyaksian
eksistensi Tuhan serta ber”cengkerama” dengan-Nya. Pengetahuan ontologinya
sesuai dengan realitas dan tujuan akhir manusia.
4.
Pengalaman keagamaan – seperti wahyu dan ilham – berbeda dengan pengalaman
mistik, mengandung pengalaman suci dan transenden. Tetapi pengalaman mistik
dipengaruhi oleh pemahaman dan pemikiran teoritis. Misalnya pemikiran
Mu’tazilah berpengaruh pada pengalaman mistik Mu’tazilah, demikian juga
pemikiran teologis Asy’ari.
5.
Pengalaman keagamaan dan mistik, sama seperti pengalaman inderawi dan empiris,
yang membutuhkan penafsiran dan penjelasan. Karenanya, membutuhkan epistemologi
ontologis.
6.
Pengalaman keagamaan dan mistik bersifat khusus, pasti dan berkelanjutan, jika
dibandingkan dengan pengalaman inderawi dan empiris.
7.
Pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman keagamaan bersifat luas yang
meliputi alam, manusia dan Tuhan.[18]
Pengalaman
Keagamaan dan Eksistensi Tuhan
Bentuk-bentuk
argumen pengalaman keagamaan dalam menetapkan eksistensi Tuhan sebagai berikut:
- Kita berasal dari satu hakikat wujud, kita memiliki pengalaman-pengalaman yang sangat dalam, penuh makna dan sangat berharga. Pengalaman-pengalaman ini tidak bisa ditetapkan dan dihadirkan dengan asumsi-asumsi natural; Karenanya pasti berasal dari satu eksistensi metafisik yaitu Tuhan, Dialah yang memberikan ilham atas pengalaman-pengalaman tersebut;
- Begitu banyak orang dari tempat dan zaman yang berbeda, mengakui dan mengungkapkan pengalaman-pengalaman ketuhanannya. Sangat tidak masuk akal jjika kita menyatakan bahwa mereka itu lalai dan tertipu;
- Pengalaman keagamaan secara esensial, bukanlah monoteistik, trinitas atau panteistik. Semua perbedaan-perbedaan yang ada ini hasil dari penafsiran atas pengalaman keagamaan. Pengalaman keagamaan memiliki sisi yang berharga, karena bertentangan dengan materialisme dan naturalism;
- Argumen yang nyata atas wujud Tuhan, diperoleh dari perasaan seseorang akan kehadiran Tuhan dan pengetahuan tentang kehendak-Nya serta perasaan yang sangat tenang dalam menerima perkara-perkara ilahi.[19]
Menurut
sebagian besar para teolog, argumen pengalaman keagamaan, bukanlah argumen yang
berdiri sendiri dalam menetapkan wujud Tuhan. Argumen ini hanya digunakan
sebagi pelengkap atas argumen-argumen lain tentang pembuktian wujud Tuhan.
Sebagian kecil teolog seperti C.D Broad, William Alston, berupaya mendukung dan
mempertahankan argumen ini. Ada juga yang mengingkari argumen terserbut dalam
menetapkan wujud Tuhan.
Argumen
Pengalaman Keagamaan
Beberapa
pendahuluan mengenai argumen ini, dapat dipaparkan sebagi berikut:
- Para arif sepakat tentang adanya esensi spiritual realistis yaitu Tuhan;
- Adanya kesepakatan para arif dan pesuluk, yang mereka sendiri mengakui dan memproklamirkan pengalaman tersebut, menandakan bahwa pengalaman-pengalaman mereka itu adalah sesuatu yang sah, nyata dan logis;
- Tak satupun dalil dan argumentasi yang menetapkan, bahwa pengalaman-pengalaman tersebut adalah bersifat khayal dan tidak realistis. Karenanya, keyakinan akan wujud Tuhan yang diperoleh dari pengalaman keagamaan dan mistik merupakan hal yang sangat logis.[20]
Kritik
atas Argumen Pengalaman Keagamaan
Kelemahan
dalam pembahasan rasionalitas dan prinsip-prinsip pemikiran filsafat,
menyebabkan sebagian teolog kristen salah dalam membangun prinsip-prinsip
rasional dalam proses pembuktian wujud Tuhan.
Salah
satu argumen yang kehilangan keabsahan filosofisnya adalah argumen pengalaman
keagamaan yang bersandar pada pengalaman-pengalaman, pencapaian dan penyaksian
realitas yang bersumber dari nilai dan kesucian yang dalam.
Pengetahuan
syuhudi atas hakikat eksistensi, walaupun merupakan hal yang mungkin
dicapai dalam pandangan akal, tetapi ada beberapa poin penting yang harus
diperhatikan:
- Syuhud[21] memiliki tingkatan dan derajat yang berbeda. Pada tingkatan tertentu, yaitu penyaksian hal-hal yang particular, terkadang menghadirkan keraguan dan ketidakyakinan;
- Syuhudnya para arif bagi orang-orang yang tidak mencapai tingkatan tersebut tidaklah menghasilkan keyakinan. Dan syuhud tersebut juga tidak bisa dijadikan dalil untuk menolak dan membatalkan kesyuhudan orang lain.[22]
Jadi,
seseorang yang tidak dapat meraih pengetahuan syuhudi, bisa menjadikan
pengetahuan syuhudi orang lain sebagai sumber pengetahuan dan keyakinan,
manakala keberadaan pengetahuan syuhudi tersebut dapat diargumentasikan. Dan
argumentasi ini -secara langsung- menetapkan hakikat dan eksistensi yang
disyuhud tersebut, seperti argumen yang secara langsung menetapkan eksistensi
Tuhan.
Kelemahan
lain yang mendasar dari argumen ini adalah adanya ketidakpastian bahwa yang
ditetapkan itu adalah wujud Tuhan. Karena bisa saja wujud yang dirasakan
kehadirannya itu merupakan wujud-wujud gaib selain Tuhan, seperti malaikat, jin
dan syaitan. Jadi argumen ini tidak mampu secara langsung menetapkan
keniscayaan dan keesaan wujud Tuhan.
[1] . Kualitas wujud manusia sangat ditentukan oleh kualitas
rasio dan akalnya. Semakin tinggi kesadaran rasionalnya, maka wujudnya akan semakin
luas dan sempurna. Pengetahuan dan makrifat adalah penyempurna hakiki wujud
manusia. Pengetahuan yang paling tinggi adalah pengetahuan
tentang ketuhanan. Metode meraih makrifat adalah dengan pendekatan
rasional, akal, dan hati. Tanpa menggunakan akal dan hati manusia tidak
memperoleh makrifat yang sempurna. Dan tanpa makrifat yang sempurna manusia
tidak akan sempurna.
[2] . Tidak membutuhkan argumen.
[3] . Pembuktian rasional dari akibat ke sebab.
[4] . Pembuktian rasional dari sebab ke akibat.
[5] . Dalam diri setiap orang ada perasaan dan kecenderungan
yang secara otomatis menarik ia kepada Tuhan.
[6] . Pembuktian Tuhan dengan mengenal keteraturan dan
keseimbangan dalam tatanan alam semesta. Lewat pendekatan ini dikatakan bahwa
keteraturan ini pastilah memiliki pengatur yang maha mengetahui dan bijak.
[7] . Dengan menggunakan argumen filosofis dan hukum-hukum akal
dalam menetapkan wujud Tuhan.
[8] . Ilahiyat Falsafi, hal.269, Mohammad Rezayi.
[9] .Jastarhaye Dar Kalâm Jadid, hal. 175, Ali syirwani.
[10] . Mabani nazari tajrebeye dini, hal.118, Ali syirwani.
[11] . ibid.
[12] . The evidential force of religious experience, hal 39-44,
Davis.
[13] . Mabâni Nazari Tajrebey-e Dini, hal. 121, Ali
Syirwani.
[14] . The Idea of the Holy, hal 10, Otto.
[15] . Mabâni Nazari Tajrebey-e Dini, hal.122, Ali
syirwani.
[16] . The Varieties of Religious Experience, bab 16.
James wiliam.
[17] . Pengaruh pengamalan berbagai adab dan tingkatan-tingkatan
amal akan menghasilkan keadaan yang khas bagi jiwa dan menghantarkan jiwa pada
kesadaran transenden bahwa dia diliputi oleh kehendak dan kekuatan luar yang
tak terbatas.
[18] . Kalâm-e Jâdid, hal. 300, Abdul husain khusrupanoh.
[19] . Ilahiyat Falsafi, hal. 270, Muhammad Riza-i.
[20] . The Argument From Religious Experience, In: Philosophy
of Religion, hal 15-108, C.D. Broad.
[21] . Penyaksian langsung hakikat-hakikat metafisik.
[22] .. Tabyin Barâhin Itsbat-e Khudâ, hal. 259,
Ayatullah Jawadi Amul
Tidak ada komentar:
Posting Komentar